Langsung ke konten utama

Potongan Kecil Hidupku

Suara tangisku terdengar pertama kali pada hari Rabu tanggal 22 Mei 1991 di RSUD Dr. Hardjono yang berada di sebuah kota kecil propinsi Jawa Timur. Sebuah kota yang dikenal masyarakat umum sebagai Kota Reog. Ponorogo tempat aku dilahirkan.
Aku ditakdirkan terlahir di keluarga yang berkecukupan. Ayahku seorang dokter umum dan Ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku lebih tua dua tahun dariku. Alhamdulillah, aku dapat tumbuh dengan sehat. Aku dibesarkan di kota yang dijuluki Bumi Bung Karno. Blitar,nama kota itu. Julukan itu dialamatkan pada kota Blitar karena di kota itulah sang Proklamator,Ir soekarno dimakamkan.



Masa kecilkku aku habiskan di desa yang bernama Wonodadi. Sebuah desa kecil di pinggiran bagian barat kabupaten Blitar. Di desa inilah ayahku berdinas. Pada usiaku menginjak lima tahun,ayahku pindah dinas ke desa lain yang berada di pinggiran bagian selatan kabupaten Blitar. Desa itu bernama Binangun. Aku menjalani hidupku di desa Binangun sampai aku menginjak kelas tiga sekolah dasar. Menginjak kelas empat SD, ayahku memindahkan aku ke sebuah sekolah yang berada di kota Ponorogo,kota tempat aku lahir. Di Ponorogo, aku tinggal bersama nenekku. Hal ini dilakukan karena ayahku takut aku tidak memperoleh pendidikan yang layak di Binangun. Selama 1 tahun 8 bulan aku bersekolah di SDN Mangkujayan 1 Kota Ponorogo. Ketika aku menginjak kelas lima camu ke tiga, aku kembali ke Bumi Bung Karno. Aku melanjutkan sekolah dasarku di SDN Kepanjen Lor 2 Kota Blitar. 1 tahun 4 bulan kemudian aku memperoleh gelar lulusan SDN Kepanjen Lor 2.
Pendaftaran Seleksi Sekolah Menengah Pertama Kota Blitar dibuka. Setelah menjalani tes,aku memperoleh hasil yang tidak terlalu buruk. Dengan skor 76, aku memberanikan diri mendaftar di SMP Negeri 1 Blitar. Sekolah Menengah Pertama ayang paling diminati di kota Blitar. Setelah tiga tahun memperoleh pendidikan di SMP 1 aku mendapat kelulusan dengan nilai UNAS yang tidak terlau baik. Aku memperoleh nilai 26,87.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…