Langsung ke konten utama

Kutukan Pak Suko

Saya menyebut ini dengan kutukan Pak Suko. Bukan karena Pak Suko mengutuk saya sehingga punya kebiasaan ini, tapi karena kebiasaan ini menurun dari Pak Suko.

Pak Suko Wiyono adalah guru seni saya waktu SMP. Guru yang mempunyai desikasi penuh terhadap seni. Belajar arti totalitas, passion, kerja keras, dan kreativitas langsung dari beliau adalah kehormatan bagi saya. Ya mungkin beliau adalah orang yang berhasil menyentuhkan saya kepada seni.

Saat itu SMPN 1 Blitar mempunyai acara pentas seni di akhir tahun. Setiap kelas wajib mempertunjukkan penampilan tari dan musik di hadapan wali murid. Dan mulailah setiap kelas membuat musik dan tari dengan bimbingan Pak Suko. Saat itu saya tergabung ke dalam pemain musik kelas 2D. Nah, disinilah kutukan itu dimulai.

Pak Suko terbiasa membuat musik pada malam hari. Yap, di atas jam 12 malam. Kami sering menginap di sekolah untuk mempersiapkan pertunjukan itu. Membuat musik selalu di malam hari, siangnya mematangkan apa yang telah dikonsep. Alasanya, "Demit e metune wayah wengi" (Setannya keluar waktu malam). Setan di sini bukanlah setan sebenarnya, tetapi inspirasi dan kemampuan mencipta. Pada malam hari adalah waktu terbaik untuk menggali inspirasi dan menciptakan sesuatu.

Dan sialnya, kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah. Waktu riset atau baca jurnal terbaik adalah di atas jam 10 malam. Merenung di lab pada malam hari adalah jurus jitu jika TA mentok di suatu titik. Alasannya? Demit e metune wayah wengi.

Kutukan ini berlanjut sampai sekarang. Entah berapa draft tulisan untuk blog yang menganggur di laptop. Bukan karena malas menyelesaikan, tapi kadang takut. Inspirasi selalu datang larut malam. Jika diteruskan, bisa begadang dan ga tidur. Alhasil jadi zombie di kantor pada pagi harinya.

Tetapi, kutukan ini saya nikmati dan entah kenapa, memang saya selalu menemui Demit di malam hari.

Salam kangen saya untuk Pak Suko Wiyono ...

Diselesaikan di SeVel Mampang pukul 00.24

@Hardian_cahya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…