Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Semangat Pagi

Pernahkah engkau merasa sangat sedih? Seakan engkau dihukum oleh kehidupan. Tidak ada orang bersamamu, dan tidak ada alasan lagi untukmu berjalan. Aku pernah, dulu.
Lalu aku berbaring di kamar kakakku. Kulihat sebuah kertas kecil yang tertempel di dinding. Seketika aku tersenyum. Merasa menjelma menjadi seorang jendral dengan ratusan ribu bala tentara di belakang yang siap menghadapi apa yang di depan.
Pernahkah engkau bingung mau ke mana, dan rasanya tiada energi untuk sekadar bangun. Merasa sendiri di tengah ramainya kota, dan merasa tiada orang yang tersenyum padamu. Aku pernah, tadi.
Pagi ini aku buka HPku dan melihat beberapa foto di dunia maya. Kutemukan sebuah foto dengan tulisan. Seketika aku tersenyum, dan seakan menjelma menjadi seorang direktur dengan ribuan pegawai dengan visi yang sama.
Kertas yang tertempel di kamar dan foto tadi mempunyai tulisan yang sama:
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling t…

Terlibat

Aku tak ingin menjadi seperti pygmalion
Yang jatuh cinta pada galatea
Dan pada dewa-dewi ia meminta
Untuk menjadikannya nyata
Aku tak ingin menjadi seperti dalang
Yang jatuh cinta pada sinta
Dan menghadang rama dan rahwana
Lalu membunuh keduanya

Diam

Hatiku tidak bersamaku saat ini. Dia memilih duduk-duduk beberapa meter dari tempatku duduk bersama wanita yang memunggungiku saat ini. Wanita itu mendiamkan hatiku yang berteriak tepat ditelinganya. Diamnya tak memutuskan usahanya untuk memasukkan pesan-pesan manis nan basi ke telinganya. Aku yang duduk memandangi hatiku dan wanita itu mulai resah. Kenapa hati itu tetap berusaha dalam diamnya wanita? Apakah hatiku terlalu bodoh untuk melangkah mundur dan kembali bersamaku?

Putus

Ruang tunggu ini tidaklah terlalu luas. Hanya 5x5 meter, terdapat 9 kursi dan 3 meja. Namun ruang itu dipenuhi beberapa orang yang hendak menonton film pendek. Aku kira ada 20 sampai 30 orang disitu. Beberapa berdiri, beberapa memilih menunggu sambli merokok di luar. Aku datang sendiri ke tempat itu. Aku menemukan hobi baru, menonton film pendek. Duh, serasa seniman sekali. Padahal soal nada, aku tak bisa bedakan antara fals dan etnik. Menggambar? Mungkin lukisan pemandangan dua gunung dan sawah yang kubuat pada waktu SMA adalah karya terbaikku.
Berdiri sambil melihat ke handphoneku. Mungkin ada yang menghubungiku. Ternyata tidak, sepi. Seperti malam minggu yang lain. Semua orang di situ terasa normal. Hanya satu orang yang menarik perhatianku. Seorang lelaki yang duduk di pojok. Kulitnya putih, bermata sipit. Aku kira umurnya tidak lebih dari 30. Berkaus hitam, bercelana katun hitam, dan bersepatu pantofel hitam bersih. Rapi sekali untuk sekelas orang yang hobi menonton film pendek.…