Langsung ke konten utama

Diam

Hatiku tidak bersamaku saat ini. Dia memilih duduk-duduk beberapa meter dari tempatku duduk bersama wanita yang memunggungiku saat ini. Wanita itu mendiamkan hatiku yang berteriak tepat ditelinganya. Diamnya tak memutuskan usahanya untuk memasukkan pesan-pesan manis nan basi ke telinganya. Aku yang duduk memandangi hatiku dan wanita itu mulai resah. Kenapa hati itu tetap berusaha dalam diamnya wanita? Apakah hatiku terlalu bodoh untuk melangkah mundur dan kembali bersamaku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…