Langsung ke konten utama

Kereta malam ini

Menjejaki setiap meter mendekat ke kota itu
Kota yang menjadi nyawa dalam ceritaku
Aku dibawa sajakku ke sana

Tuhan memang tak pernah menjanjikan sesuatu itu selalu sama
Perjalanan ini pun menjadi cerita yang berbeda
Dan aku tak suka dengan itu

Aku meninggalkan cerita lama dengan manis di setiap meternya
Berdamai dengan cerita baru di ujung rel ini
Dan menyusun sajak baru di sana

Ditulis di atas rel ke Bandung
3 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…