Langsung ke konten utama

Relawan yang Tidak Rela Awalnya

“Bapak dari mana?”, “Aceh” “Jauh ya Pak” “Enggak kok, masih Indonesia juga.” Kalimat yang khas seorang TNI jika ditanya tentang Indonesia. Menarik sekali berbincang dengan relawan Kelas Inspirasi Brebes 2 ini.



Pagi itu matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di Kota Brebes. Kami, relawan Kelas Inspirasi Brebes, sudah bersiap-siap membagi inspirasi di MI Islamiyah Sawojajar. Dengan menggunakan pick up terbuka pengangkut bawang, kami meluncur ke sekolah.


Tiba di sekolah, kami mempersiapkan upacara dan pembukaan acara. Setelah semua persiapan selesai, kami memulai upacaranya. Saya, sebagai dokumentator, tidak ikut dalam upacara karena harus mengabadikan momen. Di tengah upacara itulah seorang prajurit TNI datang.


Berpakaian seragam dinas TNI lengkap dengan segala atribut pangkatnya, dia berjalan mendekati saya. Bersalaman dengan penuh kharismatik. Senyumnya mengembang saat saya menjabat tangannya.  Di bagian dadanya tertulis nama “Adnan”. Tentu saya bingung, siapa beliau, dan ada acara apa beliau kemari? Apakah acara ini dianggap berbahaya sehingga harus diawasi TNI? Berbagai pertanyaan muncul di benak saya, karena setahu saya, tidak ada relawan yang berprofesi sebagai Prajurit TNI yang ada di kelompok kami.


Sebagai informasi, bahwa setiap relawan, baik fasilitator, pengajar, maupun dokumentator harus mendaftar dan diseleksi oleh panitia. Kami mendaftar dengan suka rela untuk berpartisipasi dalam acara ini.


Setelah upacara dan pembukaan sudah selesai, seluruh relawan berkumpul di ruang guru untuk briefing bersama guru dan kepala sekolah. Pada saat itulah saya baru tahu, bahwa ada relawan inspirator tambahan. Komandan Kodim Brebes telah memerintahkan beberapa prajurit untuk berpartisipasi dalam acara ini. Rasa syukur datang dalam hati kami karena memang kami kekurangan relawan inspirator untuk mengajar karena beberapa mengundurkan diri.


Relawan? Hmmm… mungkin awalnya tidak terlalu tepat, Pak Adnan, kami memanggilnya, datang karena surat perintah dari atasan. Beliau bahkan tidak tahu apa itu Kelas Inspirasi dan detail aktifitasnya. Yang beliau tahu adalah, dia harus mengajar dengan materi yang sudah ditetapkan oleh atasannya. Kurang lebih isinya adalah materi wawasan kebangsaan dan bela negara, tentang profesi TNI, dan keberanian bercita-cita.

Setelah mengajar beberapa kelas, kami semua istirahat di ruang guru. Saat inilah saya mengobrol lebih jauh dengan Pak Adnan. Beliau mulai bercerita perjalanan dinasnya. Mulai dari Aceh, Timor-timur, hingga sekarang di Brebes. Menurut beliau acara ini sungguh sangat bagus untuk memperkenalkan profesi, juga mendekatkan contoh-contoh hasil pendidikan kepada adik-adik yang sedang bersekolah. Pak Adnan merasa senang bisa berpartisipasi di acara ini. Selain bisa membagi inspirasi dengan adik-adik, beliau juga merasa nostalgia, karena dia juga berasalah dari Madrasah, sehingga ketika beliau mengajar madrasah, dia merasa pulang. Seorang isnpirator yang tidak rela awalnya, merasa senang menjadi bagian dari kegiatan baik ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…