Langsung ke konten utama

Tahun Belajar Kembali



Halo Desember, sudah di penghujung tahun rupanya. Masih ingat aku memulai tahun ini dengan perjalanan konyol bersama rizkon ke ujung provinsi Banten. Bermodal satu sepeda motor, google map dan kenekatan, kami berangkat pagi hari dari kost kami hanya untuk melihat pantai, dan kembali pada malam harinya. Entah apa yang ada dipikiran dua bujang yang kurang kerjaan ini.

Tahun lalu, aku melewati dengan baik. Sangat baik malah. Traveling ke berbagai negara yang dulu aku impikan, mengikuti sederat kegiatan volunteering, dan karir kantor juga cukup bagus. Karena itu aku menamai tahun 2016 dengan tahun happiness, travelling and volunteering. Dengan sederet kesan positif tahun lalu, setahun ini mungkin aku diingatkan untuk kembali rendah hati dan belajar. Dan tahun 2017 aku menamainya dengan tahun “Belajar Kembali”. Dan maafkan tulisan ini hanya berisi curhatan ga penting, tetapi untuk aku sendiri, inilah catatan pelajaran.

Quartal satu, aku mengambil sebuah keputusan pribadi yang cukup penting. Dengan sedikit sombong dan tidak waspada, aku berpikir sudah cukup ilmu untuk mengambil keputussn tersebut. Ternyata Tuhan mentraining aku dan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk belajar lagi. Kenyataan menunjukkan ilmu yang ada jauh dari cukup. Belajar sabar, belajar komunikasi, dan belajar untuk rendah hati. Tetapi ada yang disyukuri adalah kegiatan volunteeringku tidak berhenti. Beberapa kegiatan Kelas Inspirasi aku ikuti. Tidak sebagai inspirator, tetapi lebih banyak ke fotografer. Mulai belajar lagi mengenai teknik-teknik fotografi. Mulai lagi ngulik human interest. Yang dulu udah pede dengan modal DSLR entry level, dipertemukan dengan orang-orang yang tekniknya jauh lebih keren.

Quartal dua giliran urusan kantor yang diuji. Sebenarnya ini sebuah penghormatan karena diberi tantangan yang baru. Dipindahkan ke bagian yang dulu aku pikir bagian yang paling tidak produktif. Ditantang dengan ekspektasi tinggi. Tapi sayangnya tantangan tersebut berbarengan dengan permasalahan pribadi dan terlebih rotasi pimpinan baru. Demotivasi parah di quartal ke dua ini. Rasanya kehilangan alasan untuk pergi ke kantor. Ternyata aku diberi “kesempatan” untuk belajar lagi hal-hal baru di luar zona nyaman. Enak? Enggak. Semangat? Tidak terlalu. Tapi kalau aku pikir sekarang, aku dituntut tidak cengeng ketika keadaan tidak ideal lagi, aku harus tetap produktif. Tapi di quartal ini aku dipertemukan dan diberi kesempatan untuk menjadi panitia Kelas Inspirasi Jakarta untuk dokumentator. Makin banyak kenal dengan fotografer keren.

Quartal tiga, aku terus mencari alasan untuk datang ke kantor. Aku sebenarnya malas dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Mau membuat menjadi luar biasa juga tidak ada tenaga. Hidupku totally monoton pada quartal ini. Tidak ada hasil yang dideliver dengan baik di quartal ini. Hanya operational sehari-hari. Tahukah rasanya bekerja di bagian support? Kalau boleh menganalogikan adalah aku ini hanya seperti listrik di rumah-rumah. Keberadaannya akan diingat hanya jika bermasalah. Jika kau mempunyai performa dengan baik, juga tidak ada yang diingat. Pernahkan kamu bersyukur dan berterima kasih ketika listrik di rumahmu bekerja dengan baik? Aku rasa tidak.

Nah, di quartal empat ini lah aku menemukan video kuliah online yang menarik. IndonesiaX, sebuah portal kursus gratis. Saat itu aku mendengar kuliah dari Prof Rhenald Kasali bertema Be Driver. Intinya adalah kalau dirimu kuat, kamu adalah pengendali terhadap dirimu sendiri. Tidak terpengaruh oleh lingkungan atau respon buruk. Dan mulailah aku bercermin diri. Yap, mungkin aku masih menjadi orang-orang yang mengizinkan diri disetir oleh keadaan. Reality bites nya adalah aku masih cengeng untuk kehidupan ini.

Dan itulah curhatan panjang kenapa aku menamai tahun ini dengan tahun “Belajar Kembali”. Alhamdulillah, puji syukur masih diingatkan untuk tidak sombong dan tidak berhenti belajar untuk menghadapi tahun depan. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk ikut di beberpa kegiatan volunteering. Bagaimana dengan tahun depan? Ada kejutan apalagi? Yuk, kita jalanin aja dengan sebaik-baiknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan