Langsung ke konten utama

Konspirasi Tingkat Tinggi

Badannya cukup kekar untuk ukuran perempuan. Penggaris kayu ukuran satu meter dengan mantab digenggamnya. Matanya tajam menyorot sekelilingnya. Rani, begitu dia dipanggil. Dengan serius dia memberi instruksi. Kawan-kawannya pun mendengarkan dengan seksama. Sesekali menganggukkan kepala tanda paham. Suasana begitu serius. Aku,yang sebenarnya ketua kelas, hanya mengambil peran sebagai peserta saja. Biarlah kawan-kawan yang lebih ahli yang memegang tongkat komando operasi ini.

Aku baru pertama kali melihat kejahatan yang ditata begitu rapi oleh para anak didik ini. Generasi penerus yang diharapkan membangun bangsanya malah mencurangi negara. Konspirasi tingkat tinggi untuk ukuran anak SMA. Kami sedang merumuskan cara menghadapi ujian dari negara.Kami sadar cara kami tidak baik. Ketakutan kehilangan masa depan yang mendorong kami melakukan ini. Kami tidak ingin waktu belajar kami selama tiga tahun terbuang karena kesalahan pada waktu ujian selama 6x120 menit itu.



“Untuk yang mendapat soal A tolong segera mencatat nomor teman-teman soal A. Begitu juga yang mendapat soal B.Jawaban dari Adip tolong segera disebar. Yang bertugas menyebar adalah Fredi dan Cahyo. Kalau mendapat jawaban dari kelas lain tolong disebarkan ke teman-teman yang lain. Yang belum bisa ngetik SMS dengan cepat,tolong segera belajar. Tolong lakukan dengan hati-hati. Ini demi masa depan kita. Kalau kita tidak lulus, Suram masa depan kita” kata Rani dengan gaya layaknya diplomat ulung.

Cara yang kami gunakan cukup sederhana. Cara yang digunakan kakak-kakak kelas kami dalam melakukan kecurangan yang sama. Siswa yang berotak cerdas diharapkan menyebar jawabannya ke teman yang lain. Cukup melalui SMS. Bermodal uang 6.000 kami semua membeli perdana dari operator seluler yang sama. Semua siswa wajib mencatat nomor temannya yang mempunyai soal sejenis. Lalu kami membuat jaringan komunikasi. Kami pun mendiskusikan cara membawa telepon genggam ke dalam ruang ujian tanpa ketahuan penjaga. Kami memprediksi penjaga tahun ini dari MAN,terkenal dengan tidak tegas. Walaupun demikian, kami tidak gegabah dalam mneyusun strategi. Kami juga menyediakan majalah yang kami letakkan di meja pengawas dengan harapan pengawas sibuk membaca majalah dan tidak terlau mempedulikan kami. Harapan yang sangat konyol memang. Banyak ide kreatif yang tercetus. Memang di saat seperti ini dibutuhkan otak kreatif. Rancangan sistem kami buat begitu rapi.
Ketika hari peperangan itu tiba,sudah bisa diprediksi. Menerima dan mengirim SMS menjadi agenda rutin kami di 30 menit terakhir. Entah berapa banyak pulsa yang kami habiskan. Strategi majalah tidak terlalu berjalan. Tapi secara keseluruhan sistem berjalan dengan baik. Walaupun ada yang terhalang oleh pengawas yang hatinya tidak tersentuh oleh usaha keras kami. Dipanggil Wakasek, itulah bayaran bagi yang kurang beruntung.

Itu semua kami lakukan karena satu tujuan “Kita masuk ke SMA bersama-sama, kita keluar juga harus bersama”. Itulah potongan petualangan masa SMA kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)