Langsung ke konten utama

Konsep Baru Tentang Tanggung Jawab


Ada sedikit ilmu yang mau saya bagi. Ilmu ini saya dapat ketika saya mengikuti kajian rutin ma’rifatullah di masjid Daarut Tauhiid pada hari kamis tanggal 30 April 2010. Biasanya kajian ini diisi oleh KH.Abdullah Gymnastiar. Tetapi saat itu Aa Gym berhalangan untuk mengisi. Akhirnya kajian itu diisi oleh Ust. Khomar.

Ust.Khomar menerangkan tentang tanggung jawab sebagai seorang muslim. Ada bagian menarik perhatian saya. Ust.Khomar “menguji” konsep tanggung jawab yang dimiliki oleh para jamaah.

Beliau menanyakan ”Siapa yang bertanggung jawab peci ini ada di lantai?” sambil melempar peci yang beliau kenakan ke lantai
Para jamaah serempak menjawab “Yang bertanggung jawab adalah ustad,kan yang melempar ustad sendiri”
Ustad mengambil kembali peci itu dan kembali bertanya “Siapa yang bertanggung jawab peci ini di lantai?” sambil melempar peci beliau kembali.
Jamaah kembali menjawab “Yang bertanggung jawab adalah ustad khomar”
Ustad kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama sampai lima kali. Jamaah menjadi tidak yakin akan jawabannya.
Pada pertanyaan kelima”Anda semua kan melihat peci ini. Dan siapa yang bertanggung jawab bila sampai peci ini berada di lantai?”
Para jamaah dengan ragu-ragu menjawab “Ust Khomar yang bertanggung jawab.”
Tetapi ada satu di antara jamaah yang menjawab “Saya yang bertanggung jawab.” Kemudian Ust Khomar meminta yang menjawab itu maju ke depan. Dan ternyata yang menjawab “Saya yang bertanggung jawab” itu masih sangat muda. Kutaksir dia masih SMA. Dan ustad membenarkan jawaban pemuda dan memberikan hadiah buku tulisan beliau. Saya sangat kagum dengan pemuda itu. padahal jamaah yang hadir rata-rata mahasiswa dan bapak-bapak. Tetapi yang memiliki konsep tanggung jawab yang cukup matang adalah seorang pemuda yang saya rasa masih SMA.

Ternyata kebanyakan dari kita terjebak oleh konsep tanggung jawab “Siapa yang berbuat,dia bertanggung jawab”. Sebenarnya konsep ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi konsep ini sering dijadikan sebagai pembenaran untuk cuci tangan ketika ada masalah.

Contohnya ketika lingkungan rumah kita kotor, kita selalu mengatakan “Lho itu kan bukan sampah saya,jadi saya tidak berkewajiban membersihkannya.” Atau ada keluarga miskin di sekitar kita dan kita sering mengelak “Itu kan tugas pemerintah,saya ga ada kewajiban di sana.” Kita sering berkata itu salah Si Fulan,bukan salah saya. Itu tanggung jawab Si Fulan,bukan tanggung jawab saya. Itu pekerjaannya Si Fulan,bukan pekerjaan saya. Itu sebabnya jika terjadi masalah di negeri ini, semua langsung saling tunjuk siapa yang bertanggung jawab. Jarang kita temukan pemimpin yang berkata,”Ini tanggung jawab saya” ketika ada masalah terjadi.

Saya rasa saatnya kita mengubah konsep tanggung jawab diri kita masing-masing. Tanggung jawab kita bukan hanya terbatas apa yang kita lakukan. Tanggung jawab bukan hanya terbatas hasil dari pekerjaan kita. Tetapi kita juga bertanggung jawab terhadap masalah yang terjadi di sekitar kita. Selama kita mengetahui dan bisa memperbaki,maka di situlah tanggung jawab kita berada. Mungkin itu yang disebut sebagai tanggung jawab sosial.

Komentar

  1. wah bagus pelajarannya

    sip2, jadi kia bukan memebri teladan tapi kita yang jadi teladan...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…