Langsung ke konten utama

Apakah hidup itu (harus) seperti roda yang beputar?


“Kenapa wajahmu kusut begitu?”

“Lagi sedih nih Bro”

“Ada apa?”

“Gue gagal ujian Bro”

“Ooo….begitu,gagal itu biasa Bro. Hidup itu seperti roda yang berputar,kadang di atas,kadang di bawah”

Sekilas memang nasihat seorang kawan di ats memang baik. Tapi…..tunggu dulu. Kita akan bicarakan “Apakah hidup itu (harus) seperti roda yang beputar?” Jika kita telaah filosofi roda lebih dalam,kita akan menemukan kekeliruan pemahaman kalau hidup itu seperti roda yang berputar.

Mari kita tinjau dari bentuk roda. Roda adalah benda berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu. Tapi kita harus ingat bahwa jari-jari suatu roda itu selalu bernilai konstan. Karena jari-jari roda konstan,maka posisi suatu titik akan mengulangi posisi semula jika diputar. Jika kita gambarkan grafik posisi suatu titik pada roda terhadap waktu maka kita akan peroleh grafik sinusoida normal. Karena roda yang berputar termasuk gerak osilasi (kok omongannya teknik banget ya…)

Sekarang kita analogikan ke kehidupan kita. Jika benar kehidupan kita seperti roda,berarti puncak kesuksesan seseorang saat ini tidak akan meningkat atau lebih baik dari puncak kesuksesan sebelumnya (dalam grafik sinusoida normal,nilai puncaknya selalu sama). Puncak kesuksesan sesorang tidak akan berkembang seiring jalannya waktu. Kalaupun dia gagal,maka dia akan mengalami kegagaln sama buruknya dengan kegagalan yang dia alami (nilai terendah dari grafik sinusoida normal selalu bernilai sama).

Hal ini bertentangan dengan nasihat Rasulullah SAW bahwa jika seseorang keadaannya lebih baik dari hari kemarin,maka dia termasuk orang yang beruntung. Jika keadaannya sama dengan hari kemarin, dia termasuk orang yang merugi. Jika keadaannya lebih buruk dengan hari kemarin,maka dia termasuk orang yang celaka. Dari nasihat Rasulullah SAW kita bisa ambil pelajaran bahwa kehidupan atau kesuksesan seseorang itu harus meningkat seiring berjalannya waktu. Tapi bukan berarti kesuksesan seseorang bisa diraih dengan begitu mulus. Karena itu kesuksesan seseorang juga tidak bisa digambarkan dengan grafik persamaan y=x. Kadang ada keadaan kita jatuh, tetapi kejatuhan itu tidak boleh sama atau bahkan lebih buruk dibanding kejatuhan kita yang terdahulu.

Karena itu kawan,jangan menganggap kehidupan kita seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Karena kehidupan kita harus tetap meningkat seiring berjalannya waktu. Walaupun kegagalan kadang datang menghampiri kita, maka kegagalan itu harus lebih baik dari kegagalan sebelumnya. Solikhin Abu Izzudin mengatakan bahwa ”Jadikan kegagalan itu menjadi energy yang besar untuk mencapai kesuksesan yang lebih sukses dari sebelumnya”. Kita harus bisa lebihbaik dari sebelumnya…...

Bandung, 4 Juni 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…