Langsung ke konten utama

Sholat di Masjid itu Ga Gratis Lho!


Anda mungkin sering sholat di masjid. Entah di masjid sekitar rumah anda, masjid di kampus anda, ataupun masjid tempat anda mengkuti pengajian. Atau mungkin ketika anda dalam perjalanan, anda sholat di masjid yang anda temui di tengah perjalanan. Setelah selesai sholat , anda mungkin meninggalkan masjid begitu saja. Tidak ada yang aneh memang, tapi anda baru saja melewatkan sesuatu yang harus anda lakukan. Yaitu anda baru saja tidak membayar biaya anda sholat di masjid itu. Lho kok bisa? Apakah harus bayar ketika sholat di masjid?

Ada ilmu menarik yang saya dapat ketika saya mengikuti kajian rutin ma’rifatullah di Masjid Daruut Tauhiid yang diisi oleh KH.Abdullah Gymnastiar. Beliau mengatakan bahwa sholat di masjid itu sebenarnya tidak gratis. Coba kita selidiki mengapa sholat di masjid itu tidak gratis. Ketika anda datang dalam keadaan anda tidak berwudhlu, anda pasti akan wudhlu di masjid itu. Ketika anda membuka keran, air akan mengucur, lalu anda berwudhlu. Pernahkah anda berpikir,berapa harga air yang sudah saya gunakan untuk berwudhlu? Berapa investasi untuk membeli kran, pipa, keramik tempat anda berwudhlu? Itu belum termasuk ketika anda ke kamar mandi untuk (maaf) BAB atau kencing. Ketka anda ke kamar mandi untuk buang hajat, anda memakai air lebih banyak. Tentu saja biayanya lebih besar.

Setelah selesai berwudhlu, anda memulai sholat.mungkin anda akan menggunakan keramik kurang lebih 60 cm x 1 m. pertanyaan akan timbul kembali. Emangngya keramik yang lu pake itu gratis? Itu dibeli pake uang,bukan pake daun. Ya kurang lebih seperti itu. Anda harus menghitung biaya “sewa” keramik atau lantai yang anda pakai untuk sholat. Belum lagi anda sholat di sore atau malam hari. Anda harus menghitung biaya listrik lampu yang menerangi anda. Atau anda sholat di siang hari yang udaranya sangat panas. Anda menyalakan kipas angin. Wah, lebih mahal lagi itu. Belum lagi biaya biaya perawatan seperti pel, sapu, listrik sound system dan lain-lain. Bila anda adalah pegawai DKM suatu masjid, pasti anda tidak akan merasa asing dengan biaya-biaya di atas.

“Mau sholat di masjid aja ribet banget harus ngitungin biayanya?” Bukan itu maksud saya. Yang saya soroti adalah ketika kita enggan untuk infaq untuk masjid, sebenarnya kita telah melawatkan suatu “kewajiban” kepada masjid itu. Dan ketika kita tidak membayar biaya itu, berarti kita telah menerima sesuatu secara gratis. Kan enak dapat gratisan? Ha..ha…memang orang Indonesia suka yang gratisan. Tapi ingat, kata Aa Gym ketika kita satu kali menerima gratisan, maka harga diri kita berkurang satu. Dan semaikn sering kita menerima sesuatu gratisan dari manusia, maka harga diri kita akan hilang. Mau harga diri kita hilang karena sering mendapat gratisan? Maih berpikir sholat di masjid itu gratis?

Yuk kita bersama (saya pun masih belajar) tidak melewatkan kotak infaq begitu saja…….
Anda mungkin sering sholat di masjid. Entah di masjid sekitar rumah anda, masjid di kampus anda, ataupun masjid tempat anda mengkuti pengajian. Atau mungkin ketika anda dalam perjalanan, anda sholat di masjid yang anda temui di tengah perjalanan. Setelah selesai sholat , anda mungkin meninggalkan masjid begitu saja. Tidak ada yang aneh memang, tapi anda baru saja melewatkan sesuatu yang harus anda lakukan. Yaitu anda baru saja tidak membayar biaya anda sholat di masjid itu. Lho kok bisa? Apakah harus bayar ketika sholat di masjid?

Ada ilmu menarik yang saya dapat ketika saya mengikuti kajian rutin ma’rifatullah di Masjid Daruut Tauhiid yang diisi oleh KH.Abdullah Gymnastiar. Beliau mengatakan bahwa sholat di masjid itu sebenarnya tidak gratis. Coba kita selidiki mengapa sholat di masjid itu tidak gratis. Ketika anda datang dalam keadaan anda tidak berwudhlu, anda pasti akan wudhlu di masjid itu. Ketika anda membuka keran, air akan mengucur, lalu anda berwudhlu. Pernahkah anda berpikir,berapa harga air yang sudah saya gunakan untuk berwudhlu? Berapa investasi untuk membeli kran, pipa, keramik tempat anda berwudhlu? Itu belum termasuk ketika anda ke kamar mandi untuk (maaf) BAB atau kencing. Ketka anda ke kamar mandi untuk buang hajat, anda memakai air lebih banyak. Tentu saja biayanya lebih besar.

Setelah selesai berwudhlu, anda memulai sholat.mungkin anda akan menggunakan keramik kurang lebih 60 cm x 1 m. pertanyaan akan timbul kembali. Emangngya keramik yang lu pake itu gratis? Itu dibeli pake uang,bukan pake daun. Ya kurang lebih seperti itu. Anda harus menghitung biaya “sewa” keramik atau lantai yang anda pakai untuk sholat. Belum lagi anda sholat di sore atau malam hari. Anda harus menghitung biaya listrik lampu yang menerangi anda. Atau anda sholat di siang hari yang udaranya sangat panas. Anda menyalakan kipas angin. Wah, lebih mahal lagi itu. Belum lagi biaya biaya perawatan seperti pel, sapu, listrik sound system dan lain-lain. Bila anda adalah pegawai DKM suatu masjid, pasti anda tidak akan merasa asing dengan biaya-biaya di atas.

“Mau sholat di masjid aja ribet banget harus ngitungin biayanya?” Bukan itu maksud saya. Yang saya soroti adalah ketika kita enggan untuk infaq untuk masjid, sebenarnya kita telah melawatkan suatu “kewajiban” kepada masjid itu. Dan ketika kita tidak membayar biaya itu, berarti kita telah menerima sesuatu secara gratis. Kan enak dapat gratisan? Ha..ha…memang orang Indonesia suka yang gratisan. Tapi ingat, kata Aa Gym ketika kita satu kali menerima gratisan, maka harga diri kita berkurang satu. Dan semaikn sering kita menerima sesuatu gratisan dari manusia, maka harga diri kita akan hilang. Mau harga diri kita hilang karena sering mendapat gratisan? Maih berpikir sholat di masjid itu gratis?

Yuk kita bersama (saya pun masih belajar) tidak melewatkan kotak infaq begitu saja…….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)