Langsung ke konten utama

Jangan Sampai Kita Seperti Kambing


Pernahkah Anda mengamati tingkah para kambing yang akan dijadikan hewan kurban? Ketika disatu lokasi ada beberapa kambing yang akan disembelih, ada kelakuan menarik yang bisa kita amati. Seumpama di satu lokasi ada empat buah kambing yang akan disembelih secara bergiliran. Ketika kambing pertama yang disembelih, tiga kambing kambing lainnya akan bersikap tetap santai. Dengan enaknya ketiga kambing lainnya masih sempat makan rumput. Tidak ada rasa panik sedikitpun. Tidak ada usaha untuk menyelamatkan diri. Tidak ada usaha untuk menyelamatkan kawannya. Mungkin,kalau kambing bisa tertawa,ketiga kambing lainnya mungkin masih tertawa dan bercanda. Dan kalau kambing bisa menangis, pasti kambing pertama akan menangis dengan tersedu-sedu melihat kawannya tidak berusaha menyelamatkan dirinya. Ketika kambing kedua mendapat giliran disembelih,kambing kedua ini baru berusaha menyelamatkan dirinya. Dirinya akan berteriak minta tolong. Tetapi kambing ketiga dan keempat tetap santai dan tetap makan rumput dengan nyaman. Kambing akan berteriak dan berusaha lepas dari ikatannya ketika dirinya mendapat giliran akan disembelih, tetapi dia sangat acuh ketika kawannya sesama kambing mendapat giliran disembelih duluan.

Dari kejadian diatas bisa kita ambil makna yang berharga. Jika kejadian tersebut dianalogikan ke dalam kehidupan manusia,apakah kita sama seperti kambing? Kita mirip kambing atau tidak dapat terjawab dan dibuktikan ketika saudara kita mendapat musibah dan ujian dari Allah SWT. Ujian yang dikirimkan kepada saudara kita,sebenarnya kita juga turut diuji. Yang dilihat adalah respon kita ketika saudara kita mendapat musibah. Apakah kita akan dengan tanggap berusaha memberikan bantuan kepada saudara kita itu atau kita diam saja dan tetap santai makan saperti kambing tadi. Tidak elok rasanya kawan. Memberikan bantuan merupakan salah satu kewajiban kita sebagai makhluk sosial, karena manusia sejatinya tidak dapat hidup sendirian.

Saat ini saudara kita yang ada di kawasan merapi sedang mengalami ujian dari Allah. Dari berbagai media, kita dapat menyaksikan betapa ganasnya amukan gunung merapi. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Banyak saudaraku. Ada tiga langkah sederhana yang bisa kita akukan agar kita bisa berkontribusi kepada saudara kita.

1. Bagi yang mempunyai kemampuan,keahlian,kesempatan untuk berangkat menolong ke lokasi,sekiranya dapat berangkat langsung ke lokasi. (jangan lupa berkoordinasi dengan pihak terkait).

2. Bagi yang tidak mempunyai kemampuan,keahlian,dan kesempatan datang ke lokasi, kita dapat berkontribusi dengan cara lain. Kita dapat mengadakan penggalangan dana dan bantuan. Saya yakin di kampus masing-masing ada gerakan sosial penggalangan dana bantuan bencana. Sekiranya kita dapat menyisihkan sebagian uang kita untuk saudara kita yang ditimpa bencana.

3. Untuk kita semua,sekiranya kita dapat mendahsyatkan dan menyelipkan doa untuk mereka di setiap doa-doa kita. Doakan mereka agar dikuatan untuk menghadapi ujian ini.



Alhamdulillah ya Allah, pagi ini saya masih bisa menghirup udara segar dan menikmati pagi yang indah,

Tetapi bagaimana saudara kami yang ada di kawasan merapi? Apakah mereka dapat menghirup udara segar di tengah hujan abu dan pasir?

Alhamdulillah ya Allah, malam ini saya masih bisa tidur dengan nyenyak di kamar saya dan dapat bangun di pagi hari dengan segar,

Tapi bagaimana saudara saya yang ada di kawasan merapi yang harus tidur berdesak-desakan di barak pengungsian?

Alhamdulillah ya Allah, saya masih bisa makan dengan enak dan mendapat gizi cukup,

Tapi bagaimana dengan saudara saya yang ada di kawasan merapi yang harus mengantre begitu panjang untuk mendapatkan sebungkus nasi dengan lauk ala kadarnya?

Alhamdulillah ya Allah, saya masih bisa kuliah dan menuntut ilmu dengan tenang,

Tapi bagaimana dengan saudara saya yang ada di kawasan merapi yang harus menunda sekolah mereka karena sekolah mereka tidak bisa dipakai.

Ya Allah,Ampunilah hambamu ini karena tidak bisa membantu secara maksimal untuk membantu saudara kami. Semoga Engkau menguatkan mereka dalam menghadapi ujianMu ini,karena tidak aa yang mengenggam Gunung Merapi kecuali Engaku. Semoga esok bisa lebih baik. Amin...

Bandung,5 Oktober 2010

Ditulis di tengah mendung yang menyelimuti kampus.

Komentar

  1. Weh dadi blogger keren awakmu...
    Isi blogmu apik.

    tapi tukeran link lah...
    http://bow-masbow.blogspot.com
    dipasang yo link-e hahaha...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)