Langsung ke konten utama

Renungan

Jika kamu ditanya “Bagaimana indahnya suara piano dan nikmatnya bernyanyi?” oleh kawanmu yang tidak bisa mendengar dan bicara,

Maka kamu akan merasakan nikmatnya telinga dan mulut.

Jika kamu ditanya ”Bagaimana indahnya pelangi?” oleh kawanmu yang tidak bisa melihat,

Maka kamu akan merasakan nikmatnya mata.

Jika kamu ditanya “Bagaimana nikmatnya berlari-lari di taman?” oleh kawanmu yang tidak bisa berjalan,

Maka kamu akan merasakan nikmatnya kaki.

Lalu mengapa kamu mengeluh ini dan itu padahal Tuhanmu sudah memberi banyak nikmatnya kepadamu yang tidak semua orang bisa merasakan.

Maka pantaslah jika Tuhanmu berfirman “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.”

Let’s say Alhamdulillah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…