Langsung ke konten utama

Diversifikasi Keahlian Kader

Start from Bismillah...

Ini adalah catatan kecil untuk kawan-kawan pejuang KDR SKI yang tengah berjuang menghasilkan kader tangguh. Sumbangsih pikiran-pikiran kecil yang semoga bermanfaat.

Pada sekitar tahun 2004, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) memberikan beasiswa besar-besaran kepada para dosen untuk melanjutkan study ke jenjang doktoral (S3). Menariknya adalah, FEUI mewajibkan para penerima beasiswa ini mengambil spesialiasi yang berbeda-beda. Tidak boleh ada penerima beasiswa yang mengambil spesialisasi yang sama ke berbagai penjuru dunia. Ada yang mengambil Industrial Economic, Green Economic, Economic Policy, dan lain-lain. Mengapa FEUI mewajibkan penerima beasiswa mengambil spesialisasi yang berbeda? Karena FEUI sudah memperkirakan, atau setidaknya mempunyai firasat bahwa, keadaan ekonomi ke depan akan berubah platformnya. Akan timbul masalah-masalah yang tidak ada sebelumnya, karena mereka yakin, konstelasi dunia akan berubah. Pusat ekonomi pun akan bergeser ke Asia dan isu lingkungan menjadi isu yang strategis. Mereka berpikir bahwa, kedepannya FEUI harus mempunyai para doktor yang berbeda keahliannya, sehingga antisipasi perubahan kehidupan ekonomi dapat tertanggulangi. Apa yang diperkirakan FEUI benar. Siapa yang menyangka perusahaan sebesar Lehman and Brothers dapat kolaps dalam waktu singkat, dan isu lingkungan menjadi isu yang harus diperhitungkan. Mereka mengantisipasinya dengan men-diversifikasi-kan keahlian para pengajarnya.

Dunia memang berubah. Muncul yang namanya generasi social media. Model perdagangan berubah sedemikian hebat. Arus informasi tidak hanya didominasi oleh media besar. Seseorang yang hanya bermodal akun di socmed pun bisa mempengaruhi opini publik. Tidak hanya model perdagangan, model komunkasipun terus berubah. Hal inilah apa yang disebut oleh Hermawan Kartajaya sebagai New Wave Era. Sebuah perusahaan akan survive ditengah perdagangan saat ini dengan mendiversifikasikan model usahanya. Kita lihat PT. Telekomunikasi Indonesia, merubah model bisnisnya yang dulu hanya sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi menjadi strategi Telecomunication, Information, Multimedia, and Edutaiment (TIME).

Lalu bagaimana dengan SKI. Saya baru menyadari sekarang bahwa SKI terlambat mengantisipasi perubahan ini. SKI, terutama KDR, masih menggunakan cara-cara yang lama dan standart yang lama dalam mengelola kader. KDR terlalu fokus untuk menstandarkan kader bentukan tanpa men-divesifikasi-kan kemampuan kader. KDR terlalu terjebak dengan apa yang disebut sebagai 10 Muwashofat Tarbiyah. Apakah menggunakan muwashofat tarbiyah adalah hal yang buruk? Tentu saja tidak. KDR memang harus punya koridor, tetapi yang menjadi masalah adalah, ketika KDR jarang mencoba mendivesifikasikan keahlian para kader. Saya ambil contoh sederhana. Tentang Mantuba, semua kader distandartkan, atau setidaknya ada upaya menstandartkan, untuk membaca buku tentang pergerakan Islam yang hampir sejenis. Kebanyakan adalah buku terbitan Pro-U atau penerbit sejenisnya. Padahal tidak semua kader mempunyai passion dalam buku bacaan tersebut, dan yang lebih esensial lagi adalah, tidak semua masalah yang ada sekarang, solusinya ada dalam buku itu. Akibatnya adalah, ketika ada permasalahan yang dihadapi oleh SKI, dan itu adalah masalah baru, yaitu masalah yang tidak pernah dihadapi sebelumnya, SKI keteteran dalam menghadapi itu. Contohnya adalah, jarang dari kader SKI yang mempunyai pemahaman tentang marketing di social media, sedangkan di luar sana, “kompetitor” dari SKI sudah menguasai itu. Dampaknya sangat besar, bahwa “kompetitor” SKI mempunyai kemampuan dalam memainkan opini publik kampus atau promosi yang lebih keren. Setelah saya renungkan, karena jarang dari kader SKI yang paham betul tentang Social Media Marketing.

Tantangan dan Kesempatan

Tantangan dakwah kedepan akan semakin berat. Tidak ada konstelasi yang benar-benar solid dalam target pasar SKI. Generasi social media akan terus tumbuh. Opini publik kampus bisa dipengaruhi oleh 140 karekter yang ada di twitter. Pasar benar-benar menjadi flat. Apa yang disebut oleh Hermawan sebagai New Wave Era benar-benar terjadi. Orang akan sangat mudah untuk mengungkapkan suka atau tidak sukanya pada sesuatu dan dapat menyebarkannya dengan sangat mudah dan cepat. Masalah yang akan dan sedang dihadapi SKI akan semakin beragam. Akan muncul masalah-masalah baru, bahkan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Akan menjadi sangat berbahaya jika SKI, dalam hal ini KDR, tidak berupaya men-diversifikasi-kan keahlian kadernya dan masih berupaya menstandartkan semua kemampuan kader dengan standart lama. Memakai 10 muwashofat itu penting, tapi men-diversifikasikan keahlian kader adalah urgent. Kesempatan perbaikan masih terbuka lebar mengingat kepengurusan baru saja terbentuk. Banyak suntikan kader baru yang masih bisa dibentuk secara berbeda.

Apa yang harus dilakukan?

Mendiversifikasikan keahlian kader memang pekerjaan yang susah-susah gampang. Menjadi susah ketika KDR tidak bisa menangkap perbedaan passion yang dimiliki para kader. Ketika KDR ingin mengubah atau membentuk seorang kader dengan standart yang tidak sesuai dengan passion kader tersebut, akan terjadi resistensi seseorang terhadap program pembinaan kader. KDR harus menangkap perbedaan passion para kader, dan memetakannya. Sebaiknya KDR mengumpulkan kader berdasarkan passionnya, lalu membuat program kecil, tidak perlu sering, sebagai sarana kader untuk menumpahkan dan mengembangkan passionnya. Kenapa program ini sebaiknya kecil? Agar energi KDR tidak terlalu terbuang untuk program ini. Dan mengapa jangan terlalu sering? Karena kalau dijalankan secara sering, bisa mendistorsi program utama pembentukan kader. Kader yang suka menulis atau aktif di SocMed sebaiknya dikembangkan untuk memenangkan pembentukan opini publik kampus. Kader yang menyukai marketing harus ada program pengembangannya agar rencana marketing SKI bisa berjalan efektif dan efisien. Begitu pula dengan bakat lain seprti public speaking, negosiator, desain/gambar, coding, dan sebagainya.

Masalah Baru? Ga Masalah....

Jika KDR berhasil membentuk keahlian kader yang berbeda-beda, saya rasa SKI akan lebih mulus dalam menjalankan program kedepan. Kita akan punya beberapa kader yang jago negosiasi, beberapa jago marketing, beberapa jago public speaking dan sebagainya. Jika ada masalah tentang sponsor, kita pakai kader yang jago nego. Kalau ada isu yang berkembang di SocMed, kita pakai kader yang mengerti tentang pembentukan opini di SoMed. Bisa dibayangkan kalo kita punya kader yang semua jago public speaking, tapi ga ada yang ngerti marketing, Marketing Plan yang dimiliki SKI akan terbantai dengan “kompetitor” SKI yang paham marketing. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa menstandarkan dengan 10 Muwashoffat Tarbiyah itu penting, tapi diservifikasi keahlian kader itu urgent.

Salam Optimis untuk Indonesia...

@Hardian_cahya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan