Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Sesederhana itu

Ketika kesederhanaan menjadi sebuah kemewahan
Ketika bahagia dan kesedihan jadi rancu dalam definisinya
Aku mau membeli kesederhanaan itu
Aku mau mencari definisi ituMerindukan akal sehat sebagai hakim
Merindukan logika sebagai pengadil
Merindukan hati nurani sebagai penyeimbang
Merindukan iman sebagai pengambil keputusan Membuat keputusan besar untuk mengembalikan kesederhanaan
Kesederhanaan berpikir
Kesederhanaan merasa
Kesederhanaan bahagia
Langkah besar itu berat
Langkah besar itu kadang perih
Tapi pada akhirnya dia akan mengembalikan kesederhanaan ituBahagia itu sederhana, tapi pikiran kita yang menutupinya


Kemang, 13 September 2015
Dalam kegalauan mencari akal sehat

Separuh Hadir

Engkau yang bersamaku saat iniMenatap matamu yang kosong ituTubuhmu hadir tapi ruhmu tidakTawamu terdengar tapi bahagiamu lenyap

Engkau yang terjebak pada masa lalumuTidakkah kau bisa bersamaku dengan utuh?Berjalan dan bergandengan tangan denganku dengan seutuhnya dirimu

Engkau yang terus meronta darikuKu coba menggenggammu sekuat tenagaKuat dan rapatTapi tanganku mulai lemah, dan menyerahBukan aku tak berusaha, tapi aku tak kuasa

Melepasmu bukan keinginan, menahanmu bukan jawabanMenunggumu menari sampai dirimu lelah, dan kembali padakuItu pun cuma jika engkau mau kembali


Kemang, 5 September 2015Insipired from Korean Drama, Hello Monster
Seriusan, bukan puisi galau. Cuma keisengan waktu baca sajaknya Rendra sambil nonton K-Drama