Langsung ke konten utama

Sesederhana itu

Ketika kesederhanaan menjadi sebuah kemewahan
Ketika bahagia dan kesedihan jadi rancu dalam definisinya
Aku mau membeli kesederhanaan itu
Aku mau mencari definisi itu

Merindukan akal sehat sebagai hakim
Merindukan logika sebagai pengadil
Merindukan hati nurani sebagai penyeimbang
Merindukan iman sebagai pengambil keputusan

Membuat keputusan besar untuk mengembalikan kesederhanaan
Kesederhanaan berpikir
Kesederhanaan merasa
Kesederhanaan bahagia

Langkah besar itu berat
Langkah besar itu kadang perih
Tapi pada akhirnya dia akan mengembalikan kesederhanaan itu

Bahagia itu sederhana, tapi pikiran kita yang menutupinya


Kemang, 13 September 2015
Dalam kegalauan mencari akal sehat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…