Langsung ke konten utama

Adilkah Jakarta?

Menepis debu di pelipis
Pedas mata menyapa asap
Mengencangkan ikat pinggang untuk sekadar berkompromi dengan lapar
Suara pekak di telinga, meneriakkan segala kesedihan

Lima ratus meter dari situ, tuan dan nyonya berdansa-dansa
Mendentingkan gelas wine merah
Berteman daging setengah matang
Tertawa dan terbahak, menertawakan dunia yang dimainkannya

Jakarta begitu adil, dengan definisi yang dimilikinya
Adil yang penuh pemakluman dan kompromi
Adil yang dimainkan dan ditertawakan

Ditulis pada dini hari
Jakarta, 1 Mei 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…