Langsung ke konten utama

Ini Tentang Mimpi Mereka: sebuah refleksi tentang Kelas Inspirasi Jakarta 5



Bagaimana jika kamu mempunyai mimpi, dan mimpimu terwujud setelah menunggu sekian tahun? Saat aku mahasiswa, aku pernah membuat daftar seratus mimpi. Salah satu mimpi yang tertulis di daftar itu adalah “Menjadi Pengajar Muda”. Sebuah mimpi yang cukup menantang. Tidak hanya seleksinya yang cukup ketat, memutuskan untuk ikut seleksi saja sudah membutuhkan keberanian yang cukup besar. Bagaimana mungkin seseorang “mengorbankan” setahun hidupnya untuk orang lain? Tapi itulah mimpiku.

Waktu berlalu, dan baju toga terpakai dan selembar ijazah di tangan. Mimpi itu tetap ada, namun keberaniannya yang lenyap. Berdamai dengan realita adalah alasan klise lenyapnya keberanian itu. Ada satu hal yang aku iri pada kakakku, keberanian mengambil kesempatan. Kakakku menjadi pengajar muda pada angkatan ke IV (dan menemukan jodohnya di sana). Dan Aku? Menjadi pengecut yang berkompromi pada mimpinya sendiri.

Dan sebuah inisiatif muncul turunan dari program Indonesia Mengajar, yaitu Kelas Inspirasi. Cuti satu hari untuk mengajar di sekolah terdekat, dan membagi profesinya agar anak-anak mampu utnuk bermimpi lebih tinggi.  Hmmm… Ok, aku mau ikut itu. Syaratnya? dua tahun menjalani profesi yang akan dibagikan ke anak-anak. Setelah menyandang sebagai staff Procurement, aku sudah bercita-cita, dua tahun lagi aku mau menjadi inspirator di Kelas Inspirasi. Ya, aku harus menunggu dua tahun untuk itu.

Mengapa Kelas Inspirasi? Kita, yang mempunyai seluruh syarat untuk bermimpi saja masih menggenggam rasa takut untuk bermimpi, apalagi dengan anak-anak yang mempunyai keterbatasan untuk bermimpi. Mereka tidak mempunyai bahan bakar yang cukup untuk sekadar menerbangkan mimpinya. Mereka yang melihat dunia hanya dari internet gratis di sekloahnya. Mereka yang mempuyai pergaulan yang rasanya sulit untuk dijadikan referensi untuk bermimpi. Mimpi mereka yang harusnya terbang tinggi, terbatas pada atap-atap rumah mereka. Padahal, di tangan merekalah negeri ini digenggam saat usia kita terus menua.

Pagi itu, pada tanggal 2 Mei 2016 bertepatan dengan hari pendidikan nasional mimpi itu terwujud. Bersama dengan 800 lebih inspirator yang terbagi ke 60 sekolah seluruh Jakarta. 800 warga yang ikut iuran untuk dunia pendidikan. Teringat kata Mas Anies, “Iuran paling berharga adalah iuran kehadiran”. Kami hadir sebagai rasa syukur kami dan terima kasih kami untuk Indonesia. Mimpiku dan rasa syukurku terwujud dari kelas kecil dari sebuah sekolah terpencil di Jakarta Utara, SDN Semper Barat 05. Dan berikut adalah beberapa refleksi yang akan aku bagi

Kejadian apa yang paling seru selama KI?
Bagaimana rasanya jika kamu masuk satu kelas dan keadaan kelas sudah chaos? Aku mengalaminya di KI. Aku masuk kelas 3 dalam keadaan kelas sudah rusuh. Detik pertama masuk kelas sudah ada pulpen yang terbang dengan indah dari belakang menghantam papan tulis. Ada anak yang bertenggak rupanya. Lima menit kemudian ada anak perempuan yang menangis. Rusuh bertambah parah. Dalam satu waktu ada tiga pertengkaran yang terjadi parallel. Lesson plan yang dibuat tinggallah kenangan. Menguasai kelas saja sudah susah minta ampun, apalagi menjalankan lesson plan. Lupakan lesson plan, dan mulailah improvisasi dalam mengajar di kelas yang chaos.

Apa yang tidak terduga selama KI?
Aku tidak pernah menyangka dokumentator kelompokku datang jauh-jauh dari Solo hanya untuk ikut Kelas Inspirasi Jakarta. Dan aku baru tahu kemudian, di kelompok lain bahkan ada yang datang dari Papua dan Ambon hanya untuk datang ke KI Jakarta. Pengorbanan mereka jauh diluar nalarku. Rasanya agak gila datang dari tempat sejauh itu hanya untu KI. Salut untuk mereka.

Apa yang paling membahagiakan selama KI?
Pertanyaan refleksi terakhir ini yang membuat perasaan bercampur aduk. Ikut KI saja sudah membahagiakan. Menunggu selama dua tahun untuk ikut KI. Dan selama prosesnya, kepingan kebahagiaan muncul. Berinteraksi dengan anak-anak, mencoba mengungkit keberanian mimpi, dan memberi gambaran bahwa mimpi mereka itu possible untuk dicapai menjadi runtutan kebahagian berikutnya. Kebahagiaan terbesar ketika mereka ada yang berkata, “Aku mau belajar agar bisa meraih cita-citaku”. Mimpi mereka hidup.

Pada akhirnya, Kelas Inspirasi bukanlah tentang mimpiku yang harus aku tunggu selama dua tahun. Ada yang lebih penting. Ini tentang mimpi anak-anak SD yang harus dihidupkan. KI adalah pendobrak belenggu mimpi mereka. KI adalah tentang bahan bakar mimpi mereka, sehingga roket mimpi mereka bisa menembus atap-atap rumah mereka. KI adalah tentang pengisi pembangunan masa depan Indonesia. KI adalah tentang masa depan Indonesia.

Kelas Inspirasi juga bercerita tentang penggerak-penggerak pendidikan. Tidak perlu lagi seminar pendidikan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Yang dibutuhkan adalah menularkan rasa bahagia saat terjun langsung dan turun tangan ambil iuran dalam aktifitas pendidikan.
Dan melalui KI, rasa syukur dan terima kasih kepada guru-guru SD seluruh Indonesia. Sebuah kesabaran untuk mendidik anak-anak Indonesia. Mengajar satu hari saja sudah kelimpungan, namun guru-guru SD menghadapinya setiap hari. Kurikulum bisa berganti, teknologi bergerak, ilmu pengetahuan bergerak. Di tangan guru-guru SD inilah anak-anak Indonesia diajak berlari mengejar laju teknologi dan ilmu pengetahuan.

Terima kasih anak-anak SD Semper Barat 05, Bapak Ibu guru, dan seluruh panitia Kelas Inspirasi. Dan terima kasihku untuk guru-guru SDku. SDN Binangun 01, SDN Mangkujayan I, dan SDN Kepanjen Lor 2.

Foto by Miftah Said

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)