Langsung ke konten utama

Ketinggalan Kereta dan Nikahan Bimo

Jakarta dan segala keabsurdan lalu lintasnya sepertinya tidak bisa Anda remehkan. Kalau Anda lolos dari absurdnya Jakarta, mungkin Anda sedang beruntung. Tidak untuk diulangi karena Anda tidak beruntung setiap saat.

Ceritanya kami berdelapan orang berencana akan ke Jogja dalam rangka menghadiri pernikahan Bimo. Tiket sudah dibeli, dan semua sudah dipersiapkan. Kami terjadwal berangkat pada hari Jumat, jam 21.45. Pagi hari kami sudah saling mengingatkan agar tidak terlambat, dan hadiah sudah dibeli.

Dan malam tiba, dan Allah memberi berkah ke Jakarta berupa hujan deras mulai dari sore sampai malam. Bingung segera melanda karena jam 20.30 saya masih terjebak di kosan dalam keadaan ga punya payung. Okee,... ambil resiko. Ambil jaket, lari ke luar gang dan naik taksi. Sepatu nyelup, baju dan tas basah. Sampai stasiun senen Jam 21.20 Di tengah jalan, saya baru tahu bahwa Meta masih di Ciplaz. Langsung saya pesankan Uber untuk mengantarkannya ke Stasiun Senen.

Hakim yang sudah berada di senen mencetak tiket kami berdelapan. Saya berpikir bahwa Meta adalah penumpang yang paling kritis. Ternyata, Meta adalah penumpang ke 3 dari kami ber 8. Yang lain? Suma dan Moan masih di kantornya, Dicky dalam perjalanan, Fery entah di mana, dan Rudy sudah menyatakan menyerah. Pada titik-titik kritis, Dicky datang. Dia memilih untuk menunggu Fery. Saya, Hakim, dan Meta sudah masuk ke kereta. Dan sampai kereta bergerak, fix kami cuma ber 3 yang selamat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…