Langsung ke konten utama

Penyakit Kekucingan

Saya berpikir, bahwa bukan hanya penyakit macam hepatitis atau diabetes saja yang bisa diturunkan, saya rasa penyakit obesesif akan kucing juga bisa diturunkan. Ya setidaknya beresiko menurun. Meli, merupakan kucing saya yang pertama. Pada waktu itu kira-kira saya berusia tujuh tahun. Ayah saya memungut Meli di pasar burung di Kota Malang. Dinamai Meli karena pada waktu itu saya mengenal kata baru dalam hidup saya, Milenium. Kata itu memang lagi ngeghitz kala itu karena memang saat itu bukan hanya tahun baru, tapi milenium baru.

Alhasil,saya berurusan dengan kucing dari saat itu sampai saya akan berangkat kuliah. Ya tentu saja bukan hanya Meli saja. Setiap kucing saya ganti, entah karena mati atau tidak pulang karena kena pelet dari kucing wanita yang binal dari kampung sebelah, orang tua saya selalu menamai dengan meli. Malas bikin nama dan ribet menghafal adalah alasan mutlaknya. Alhasil ada meli periode pertama sampai entah berapa. Sudah mengalahkan Pelitanya Pak Soeharto.

Dan pada perjalanannya, saya baru tahu kalau orang tua saya, terutama Ayah saya sepetinya juga mendapat penyakit keturunan dari nenek saya. Nenek saya memelihara kucing saat ayah kecil. Dan dinamai mawar. Dan sampai sekarang, nenek saya memelihara kucing. Mungkin nenek saya sedikit lebih kreatif dari orang tua saya, sehingga namanya tidak statis. Tapi yaah… namanya selalu berawalan huruf M.

Dan kemarin saya makan di sebuah warung, Di situ saya menyadari bahwa, bukan hanya penyakit obsesif terhadap kucing yang bisa menurun, namun penyakit alergi kucing juga bisa diturunkan. Ya namanya warung, bukan resto besar, pasti ada saja kucing yang datang dengan entengnya. Mengeong-ngeong di sekitar orang makan. Mungkin yang suka pelihara kucing tahu, bahwa kucing mengeong itu belum tentu lapar dan minta makan, namun bisa juga mereka mengeong, karena mereka mau. Mau apa? ya ga tahu. Mau saja. Ya kucing memang terkadang absurd.

Ada keluarga yang tengah makan di situ. Pada awalnya, ayah dari keluarga itu tampak terganggu dengan kucing yang kurang pendidikan itu. Diberikanlah daging bebek ke kucing itu. Dicium sebentar, dan kucing itu kembali mengeong tanpa memakannya. Memang kurang pendidikan kucing itu. Karena kesal, ayah itu menendang kucing itu. Menyingkir sebentar, kucing itu mendekati anaknya. Dan apa yang terjadi? Prinsip “Childern See, Childern Do” berlaku. Ditendangnya kucing itu oleh anaknya. Yeaah,.. satu anak di dunia ini tertular penyakit alergi kucing dari orang tuanya.

Yup, perlakuan kita ke binatang akan menurun ke anak-anak kita ketika anak-anak kita melihat. Sebagaimana obsesif terhadap kucing diturunkan oleh nenek saya ke ayah saya, lalu ke saya, perlakuan buruk ke binatang telah menurun dari ayah di warung itu terhadap anaknya. Hati-hatilah dalam memperlakukan binatang di depan anak-anak Anda. Karena, “Childern See, Chidern DO” Be wise to animal,...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…