Langsung ke konten utama

Ungkapan dengan Cerita

Untuk seri ke 4 dari #30HariBercerita agak telat karena kemarin harus siap-siap flight pagi. Mari kita teruskan bercerita tentang story telling. Pernah ga sih kalian ingin menyampaikan atau mengungkapkan sesuatu tapi hanya tertahan? Atau kalian punya pemikiran, tapi bingung mengungkapkan dengan cara apa? Banyak cara untuk mengungkapkan sesuatu, tapi yang paling asik dengan cerita.

Ya, hari ini aku akan bercerita tentang story telling bisa dijadikan untuk menyampaikan sesuatu. Aku pernah menulis sebuah cerpen saat kelas dua SMA. Sebenarnya ini merupakan tugas mata pelajaran bahasa Indonesia. Pak Didik, guruku saat itu, meminta kami agar menulis sebuah cerpen. Tema dan alur cerita terserah. Entah bagaimana, aku menulis sebuah cerpen rekaanku sendiri tentang pergerakan mahasiswa tahun 1998. Aku beri judul cerpen itu “Jakarta Sore Itu”.

Cerpen ini bercerita tentang mahasiswa aktifis yang terlibat aktif dalam upaya penjatuhan Soeharto dan menuntut reformasi. Dia sudah dilarang ibunya untuk ikut dalam aktivitas seperti itu. Singkat cerita, tubuhnya diterjang peluru tajam dari aparat. Cerpen ini aku dedikasikan untuk elang dan 3 mahasiswa Trisakti lainnya yang gugur.

Tema cerpen seperti ini tidak lazim ditulis oleh anak SMA kelas 2. Di saat lainnya menulis tentang romansa, persahabatan, atau tema sejenisnya, aku malah menulis tentang reformasi. Pak Didik sempat memanggil aku karena ini. “Kenapa kamu menulis dengan cerita ini?” tanya beliau di ruang guru. Aku dengan singkat menjawab, “Saya tidak suka Soeharto.” Jawaban singkatku saat itu.

Aku memilih cerita untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaanku dengan sebuah cerita. Tidak ada jargon keras di dalamnya, tidak ada tuntutan eksplisit di dalamnya. Hanya sebuah cerita ibu yang kehilangan anak aktifis. Pemikiran yang diungkapkan dengan cerita, apalagi sebuah cerita yang dekat dengan kita, akan lebih mudah sampai pada orang yang membaca atau mendengar. Kita tidak perlu menyusun argumen panjang untuk sebuah pemikiran.

Ditulis di kamar, rumah.

5 Januari 2018

#30HariBercerita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…