Langsung ke konten utama

Halo Story Telling

Halo hari ketiga untuk #30HariBercerita. Aku mau cerita tentang…. Cerita. Cerita atau bahasa kerennya sekarang itu story telling adalah hal yang sangat dekat dengan kehidupanku. Aku bisa membaginya ke dalam 3 fase. Fase pertama adalah story telling sebagai hiburan. Fase kedua adalah story telling sebagai cara berkomunikasi. Fase ketiga, story telling sebagai alat propaganda. Biar agak panjang dan aku biar ada bahan untuk tiga hari ke depan, aku akan bahas per fase.

Untuk kali ini aku akan bercerita tentang story telling sebagai hiburan. Aku mulai berkenalan dengan story telling sejak aku masih sangat kecil. Ayahku sering mendongengkan  aku berbagai cerita sebelum tidur. Ya, dongeng adalah alat story telling paling sederhana  dan paling awal yang aku kenal, sebelum aku berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Saat aku mulai besar, aku mulai berkenalan dengan story telling berupa tulisan. Aku sudah lupa kesenanganku membaca dimulai sejak kapan. Tapi kemungkinan besar sejak kelas 4 SD. Sejak aku pindah tinggal bersama nenek di Ponorogo. Sebelumnya aku tinggal bersama orang tuaku di desa yang cukup pelosok di Blitar bagian selatan. Dikarenakan orang tuaku khawatir akan kualitas pendidikanku, aku dipindah untuk tinggal bersama nenekku di Ponorogo. Sebelumnya, akses bacaan sangatlah sulit di desa. Perpustakaan sekolah hanyalah ruang berdebu tempat meletakkan buku satu rak, bersama dengan barang-barang tidak terpakai. Dan pada akhirnya, perpustakaan nyaman hanyalah dongeng pada saat itu. Ketika di Ponorogo, mulailah terbuka bahan bacaan yang sangat luas. Yang aku suka? Komik tentu saja. Tidak berat. Komik sinchan. Dan beberapa seri komik lain yang aku punya sepeti paman gober dan komik disney lainnya. Bahan bacaan lain? Kebanyakan cerita rakyat atau legenda.

Cerita sebagai hiburan. Ya, cerita selalu bisa menghiburku. Sinchan tidak pernah gagal membuat aku tertawa. Paman gober menyusul berikutnya. Dan pada akhirnya aku sangat keranjingan dengan membaca. Dikarenakan tidak tahunya cara membaca dengan sehat, aku mendapatkan kaca mata pertamaku di kelas 4 SD. Kelas 5 mulai berkenalan dengan novel. Novel pertama yang aku baca adalah Harry Potter and the Sorcerer's Stone, pemberian Om Nanang. Makin menjadi saat aku kembali tinggal bersama orang tua di Blitar. Kali ini di kota. Aku masih ingat, di kota Blitar ada persewaan komik. Mungkin aku menjadi salah satu pelanggan tetap di sana. Alhamdulillah, aku mempunyai orang tua yang mensupport kebiasaan membaca cerita ini. Seluruh serial Harry Potter dibelikan oleh ayahku.

Ya, cerita tidak pernah gagal menjadi hiburan. Hiburan bernilai, hiburan yang menyentuh, hiburan yang menginspirasi. Cerita tidak harus disampaikan dalam tulisan, karena ada yang bilang budaya Indonesia itu bukan budaya baca tulis, tapi budaya tutur. Namun apapun bentuknya, story telling menjadi alat hiburan sederhana untukku. Bagaimana dengan kamu?

Ditulis di kegalauan malam hari

3 Januari 2018

#30HariBercerita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan