Langsung ke konten utama

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan


Saya memutuskan menikmati Ramadhan dengan agak berbeda. Saya dengan sangat mendadak memutuskan untuk pergi ke Jogja, tepatnya ke daerah Jogokaryan. Saya mendengar bahwa di sana ada perayaan Kampung Ramadhan Jogokaryan yang diselenggarakan sebulan penuh. Berbekal tiket dari program SJ Travel Pass, saya meluncur ke Jogja. Saya meniatkan ingin melihat aktifitas di sekitar masjid Jogokaryan dan ingin hunting street photography.

Penjaja Makanan Sekitar Jogokaryan

Saya sampai di kawasan Jogokaryan sekitar jam 15.30. Suasana jalan masih relatif sepi. Saya segera check in di hotel  Burza yang terletak di ujung jalan Jogokaryan. Sambil menunggu mendekati jam berbuka dan beristirahat sejenak, saya mempersiapkan kamera untuk hunting. Saya menggunakan gear yang cukup sederhana, yaitu Canon G7xmii, kamera pocket yang cukup bagus. Ketika jam menunjukkan pukul 16.45, saya keluar hotel. Dan betapa kagetnya saya, jalanan yang masih sepi sekitar sejam yang lalu berubah menjadi sangat ramai. Di kanan-kiri jalan banyak penjual kaki lima yang menjajakan berbagai makanan berbuga. Mulai dari sosis bakar, sate, batagor, dan masih banyak lagi. Penjual berjejer dari ujung jalan Jogokaryan sampai di kawasan masjid Jogokaryan. Anda tidak adakan kesulitan menemukan makanan berbuga puasa di sini, namun Anda akan kesulitan untuk memilihnya.

Antri Untuk Mendapatkan Hidangan Berbuka

Di kawasan masjid, petugas masjid menyiapkan makanan berat sekitar 1200 sampai 2000 porsi setiap harinya untuk dibagikan. Ibu-ibu penduduk sekitar masjid sibuk mempersiapkan makanan ini ke piring dan gelas yang disediakan. Ini memang merupakan bagian dari program pemberdayaan masjid Jogokaryan. Mendekati waktu berbuka, orang-orang mulai antri untuk mendapatkan makanan berbuka. Dengan duduk rapi sampai ke jalanan di luar masjid, orang-orang akan menunggu waktu berbuka. Setelah adzan maghrib terdengar, orang-orang segera menyantap hidangan yang telah disediakan. Setelah beberapa saat, persiapan sholat maghrib segera dimulai. Dikarenakan banyaknya jamaah yang hadir, maka sholat maghrib terpaksa dibuat dua gelombang. Setelah sholat maghrib selesai, perlahan jalan Jogokaryan kembali sepi. Namun di kawasan masjid, masih ada beberapa jamaah yang beribadah.

Ibu-ibu warga sekitar menyiapkan hidangan

Program Kampung Ramadhan Jogokaryan memang sudah sejak lama ada. Ini adalah tahun ke sebelas diselenggarakannnya. Spirit yang dibawa oleh pengurus masjid adalah kebermanfaatan masjid harus dirasakan oleh warga sekitar. Selain itu, ibadah Ramadhan harus dilaksanakan dengan suka cita dan hati gembira. Tak heran masjid yang menjadi percontohan pengelolaan masjid tingkat nasional ini sangat ramai di bulan Ramadhan. Kegiatannya beragam, ada tabligh akbar, buka puasa gratis, sahur bersaama, sholat tarawih berjamaah, dan berbagai event yang tersusun selama sebulan. Yang paling berbeda adalah adanya sholat tarawih ala Madinah, yaitu shalat tarawih yang diimami oleh imam dari timur tengah, dan menghabiskan satu juz dalam malam itu. Sholat tarawih ini tidak dilaksanakan setiap malam, namun hanya malam-malam tertentu saja.
Warga Menunggu Waktu Buka Puasa

Menikmati suasana Ramadhan di Jogokaryan memang sangatlah meriah. Anda bisa mencobanya sehari atau dua hari menginap di kawasan ini untuk merasakannya.

Info:
Masjid Jogokaryan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…