Langsung ke konten utama

Well planned traveler vs Free spirit traveler

Ketika Anda ingin traveling, pasti Anda akan memikirkan Anda ingin ke mana saja. Namun untuk beberapa orang, akan berbeda-beda tingkat detail dari itinerary perjalanannya. Karena itu saya membagi menjadi dua, well planned traveller, dan free spirit traveler.

Well planned traveler, seorang traveler yang sangat memperhitungkan itinerary perjalanannya. Setiap jam diperhitungkan, setiap spot dijatah berapa lama, dan setiap pergerakan ditentukan transportasinya. Dia bahkan mempersiapkan plan B jika plan A tidak terlaksana akibat sesuatu yang di luar kontrolnya, contohnya cuaca. Apakah saya pernah? Pernah. Saya pernah mempersiapkan 3 itinerary sekaligus ketika saya traveling ke Singapore. Kebetulan saya traveling dengan beberapa rekan saya, dan saya hanya orang di rombongan itu yang pernah ke Singapore. Dikarenakan tidak ingin mengecewakan rombongan, saya tidak boleh menghabiskan waktu terlalu lama untuk berpikir jika terjadi sesuatu di luar kontrol saya.

Kebalikan dari well paned traveller, adalah free spirit traveller. Saya tidak tahu istilah ini tepat atau tidak, jika Anda tahu istilah yang lebih tepat, let me know. Pada intinya, golongan ini berprinsip pada “ke manapun angin berhebus”. Apakah ini tidak punya rencana? Pasti punya. Namun kebanyakan hanya gambaran besarnya saja. Golongan ini sudah browsing tempat-tempat yang menarik, namun kadang tidak membuat itinerary yang detail. Apakah saya pernah? Pernah, ekstrim bahkan. Saya pernah ke Malaysia, namun belum tahu mau ke mana saja. Data pertama yang saya punya, saya hanya memikirkan saya pingin ke Malaka dan sekitar Kuala Lumpur. Data ke dua adalah tiket berangkat dan pulang saya sudah ditentukan. Singkat kata saya punya empat hari tiga malam di Malaysia. Ya cuma itu. Akibatnya, saya baru memikirkan ketika saya menjejakkan kaki di bandara KLIA2.

Apakah ada yang salah dan benar? Menurut saya ini masalah selera. Ada beberapa kelebihan di masing-masing golongan ini.

Kelebihan well planned traveller

  1. Waktu akan benar-benar efektif. Anda tidak akan kehabisan waktu untuk bengong memikirkan Anda mau ke mana saja. Tidak ada waktu yang terbuang untuk menunggu jadwal transportasi, dan tidak ada waktu yang terbuang untuk tersesat. Anda tidak akan menghamburkan waktu sedetik pun.
  2. Biaya akan terkontrol. Tentu saja ketika itinerary jelas, Anda tidak akan mengeluarkan biaya tambahan atau biaya dadakan. Apalagi jika hotel sudah dipesan jauh-jauh hari, maka kemungkinan besar akan mendapatkan rate yang lebih bagus.
  3. Anda bisa mengunjungi banyak tempat. Karena waktu benar-benar efektif, Anda akan bisa mengunjungi banyak tempat dalam waktu yang sama jika dibandingkan dengan tanpa itinerary detail.


Sedangkan kelebihan free spirit yang saya rasakan adalah:

  1. 1Saya lebih mendapatkan detail tempat yang saya kunjungi. Untuk cerita di Malaysia, akhirnya saya menghabiskan dua malam di Malaka, dan semalam di Kuala Lumpur. Untuk di Makala, dengan tempat sekecil itu saya mengeksplore dua hari. Saya benar-benar mendapat detail tempatnya. Saya sudah hafal sebagian jalan di sekitar Malaka, saya hafal mural yang ada, saya tahu bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana sifat wisatawan yang ada, saya tahu tempat makanan halal, dan sebagainya.
  2. Penuh kejutan. Kejutan menambah seru petualangan perjalananmu. Tersesat, nanya sana-sini, salah naik bus, menemukan tempat-tempat menarik yang jarang di bahas di internet. Dan ini kadang yang saya kejar ketika saya traveling.
  3. Berinteraksi dengan orang sekitar. Ketika Anda tinggal di tempat yang sama dengan waktu relative lama, Anda akan “terpaksa” berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Ya di situlah Anda akan belajar socio culture tempat itu.
  4. Tidak merasa diburu. Anda tidak akan merasa diburu jadwal ketika Anda termasuk dalam golongan ini. Perjalanan akan menjadi lebih santai.

Anda termasuk golongan yang mana? Yang manapun boleh, namun harus menyesuaikan hal-hal seperti waktu yang tersedia, biaya yang dialokasikan, dan dengan siapa Anda traveling. Jika ada hal-hal yang belum ada di atas, Anda bisa tulis di kolom komentar.

Salam traveling….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…