Langsung ke konten utama

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)


Membalaskan dendam tidak bisa kulineran waktu ke Jogja kemarin karena memang sedang bulan puasa, kali ini saya membuat bucket list kulineran, tapi bukan di Jogja, agak bergeser sedikit, tepatnya di Solo. Surakarta, atau lebih dikenal dengan Solo, tidak hanya terkenal dengan kota batik dan budaya, namun juga surga kuliner. Jadi kamu yang ingin traveling ke kota dengan segudang legenda kuliner, mungkin Solo harus berada di urutan teratas daftarmu.

Jika kamu ingin menuju pusat kota Solo dari bandara, pilihan transportasinya sangat terbatas. Hanya ada taksi resmi, atau bus Damri. Kali ini saya menggunakan Bus Damri dengan ongkos 25 ribu. Tiketnya bisa kamu beli di pintu keluar di terminal kedatangan. Turun di jalan Slamet Riyadi. Dari situ kamu bisa gunakan transportasi online.

Kembali ke kuliner, list pertama saya adalah Tengkleng Bu Edi, letaknya di dekat pasar klewer. Tengkleng ini sangat terkenal. Namanya muncul di setiap rekomendasi kuliner Solo. Dengan semangat saya menuju ke sana. Dan ternyata kejutan menemui saya. Tengklengnya tutup 4 hari. Menurut penjual sekitar, tengklengnya di booked salah satu pejabat tinggi untuk acara open house.

Dengan kesal, saya langsung menuju ke list kedua, yaitu Warung Sate Pak Manto. Di warung ini kamu bisa menikmati berbagai olahan kambing, yaitu tengkleng kambing, sate kambing, sate buntel, rica kambing. Pengunjungnya rame pake banget. Untuk memesan kamu harus menuju ke kasir dulu. Kali ini saya memesan rica kambing karena item lain akan saya coba di warung lain di list saya. Saya tidak menyangka satu porsi cukup banyak. Mungkin bisa untuk dua atau tiga orang. Rasanya? Hmmm… rasa rempah yang didominasi merica sangat terasa bercampur kecap manis. Dagingnya sangat empuk, saking empuknya, kamu tidak perlu susah melepas dari tulangnya. Degan porsi besar, harganya 60 ribu. Buat kamu yang tidak tahan merica atau punya penyakit maag, hati-hati yaa. Merica yang kuat bisa membuat perutmu panas jika kamu menikmatinya dengan perut kosong.

Sate Kambing Pak Manto
Jalan Honggowongso No.36, Sriwedari, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Buka: 07.00 - 21.00
Kisaran Harga: 100ribu untuk 2 orang

Berlanjut sore harinya saya ke tengkleng Mbak Diah. Letaknya di daerah Solo Baru. Saya ke sini untuk menggantikan tengkleng Bu Edi yang tutup. Tengkleng Mbak Diah ini juga cukup terkenal. Menurut beberapa referensi, Tengkleng Mbak Diah ini langganan presiden kedua RI, Bapak Soeharto.Warung ini juga menyediakan sate, namun kali ini saya hanya memesan tengkleng. Setelah saya rasakan, kuahnya segar, dagingnya empuk dan tidak prengus. Jika ingin ada rasa pedas, kamu bisa menggeprek cabe yang disertakan. Tengkleng bisa kamu nikmati dengan harga 30 ribu perporsi. Karena rasa kuahnya gurih dan segar namun cukup ringan, tengkleng bisa kamu nikmati untuk makan siang ataupun makan malam.
Tengkleng Mbak Diah
Desa Tanjunganom RT.002 / RW.001, Kwarasan, Grogol, Kwarasan, Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
buka: 09.00 - 21.00
Kisaran Harga: 35.000 - 40.000 per orang

Penelusuran kuliner saya berlanjut ke minuman, dan saya memilih susu segar. Mungkin banyak kedai susu segar di kota Solo, tapi kali ini saya memilih kedai susu Shi Jack cabang veteran. Kedai susu ini buka di malam hari. Di kedai ini selain menyediakan susu dengan berbagai rasa, juga terdapat cemilan atau jajanan khas angkringan seperti sate usus, sate bakso, gorengan, nasi kucing, dan favorit saya, ketan bakar. Harganya masuk untuk kantong mahasiswa sekalipun. Saya memesan susu segar tanpa rasa. Dan rasanya cukup menghangatkan badan saya di malam itu.

Susu Segar Shi Jack
Jalan Veteran 180, Surakarta
Buka: 16.00-23.00
Kisaran Harga : 7.000 - 15.000 per orang 

Masih ada beberapa list yang saya kunjungi, namun akan saya ceritakan di part 2. Surga kuliner itu memang bernama Solo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Buku, Convenience Store Woman, kisah cinta seorang wanita aneh dengan toko serba ada

Mungkin convenience store, atau yang saya artikan toko serba ada, menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mungkin Anda pergi ke toko serba ada minimal seminggu sekali untuk membeli beberapa kebutuhan harian atau sekadar membeli minuman dingin di kala hari yang terik. Tapi pernahkah Anda memperhatikan pelayan toko yang mengucapkan dengan riang “Selamat datang di In**maret, selamat berbelanja” setiap Anda memasuki toko tersebut?

Menyalakan Harapan dari Tulin Onsoi

Kalau kata orang, cara paling mudah untuk memprediksi masa depan adalah merancangnya saat ini dan terus bekerja untuk mewujudkannya. Dan pertanyaan itu kembali berkembang, bagaimana cara mudah memprediksi masa depan bangsa ini? Perhatikan anak-anaknya, dan bekerja keraslah untuk menyiapkan mereka untuk menjadi penerus masa depan bangsa ini. Dengan apa? Tentu saja pendidikan. Dan diantara masalah yang berderet di dunia pendidikan, yang senyatanya berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak adalah guru.

Di Tulin Onsoi, sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, kita terlalu jauh bila kita bicara Industrial Revolution 4.0, atau paper yang dikeluarkan World Economic Forum tentang skills 2020. Mungkin terlalu keras mengatakan bahwa tema-tema itu hanya untuk pulau jawa. Tidak di Tulin Onsoi. Tema yang dibicarakan guru-guru mulia nan ikhlas di sana adalah bagaimana menghadirkan anak-anak di ruang kelas ketika upacara adat berlangsung berhari-hari, bagaimana memotivasi anak-anak untuk lanjut k…