Langsung ke konten utama

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)



Melanjutkan petualangan kuliner di kota Surakarta, dan di saat malam sudah mulai menemui kota ini, saya menuju Nasi Liwet Wongsolemu. Nasi liwet adalah nasi gurih mirip nasi uduk, yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam dan areh (santan kental). Ketika kita mengetikkan nasi liwet, nama nasi liwet wongsolemu berada di beberapa list rekomendasi. Nasi liwet Wongsolemu berada di daerah keprabon. Nasi liwet di sini cenderung manis, tapi juga gurih. Manis didapat dari masakan sayur labu siam yang dimasak mirip dengan gudeg, dan rasa gurih dominan berasal dari areh. Anda juga bisa meminta menambahkan jeroan, kepala ayam, telur, atau lauk lain. Makan di sini sangat nikmat karena juga diiringi alunan lagu jawa yang dimainkan oleh pemain siter.
 
Nasi Liwet Wongso Lemu
Jl. Teuku Umar, Keprabon, Banjarsari, Kota Surakarta
Buka: 16.00 – 24.00
Kisaran Harga: 15.000 per orang

Keesokan harinya setelah saya check out dari hotel, saya berniat sarapan di Timlo Sastro. Timlo Sastro berada di daerah Pasar Gede. Daann… ini menjadi kuliner favorit saya di Solo. Timlo Solo ini kalau saya bilang terlalu gelap untuk dibilang sup, tapi terlalu ringan kalau dibilang soto. Jadi bayangkan saja gabungan soto atau sop yang berisi potongan sosis khas solo, daging ayam, telur ayam, atau jeroan ayam. Sosis khas solo itu berbentuk seperti martabak, tapi isinya sangat tipis. Ketika anda mencicipi kuahnya, ini sangat segar, gurih, tapi cukup ringan. Kalau menurut saya, ini cocok dinikmati kapan saja. Tapi saya menikmatinya di saat sarapan. Anda bisa memesan denga nisi sesuai dengan keinginan kamu. Timlo komplit bisa kamu nikmati dengan harga 20.000 Ditemani nasi putih hangat jika kamu ingin. Alunan lagu keroncong dari pengamen menambah kenikmatannya.

Timlo Sastro
Jalan Kapten Mulyadi No.8, Sudiroprajan, Jebres, Sudiroprajan, Jebres, Kota Surakarta
Buka: 06.00 – 03.30
Kisaran harga: 25.000 per orang

Dan sebagai penutup sebelum pulang ke Jakarta, saya meluncur ke sate Buntel Mbok Galak. Berada agak di pinggir solo, saya meluncur menggunakan ojek online. Sesampainya di sana, saya dikejutkan dengan berjejalnya pelanggan. Di warung ini tersedia olahan kambing seperti sate, sate buntel, tengkleng, dan gule. Kali ini saya memesan sate buntel. Sate buntel terbuat dari cincangan daging kambing, yang dililitkan ke tusuk sate, dan dibungkus (dibuntel) dengan lemak kambing. Satu porsi berisi dua buah sate. Tapi tenang, karena ukurannya yang cukup besar, dua tusuk sudah sangat cukup untuk satu orang. Gurih, tidak prengus, dan nikmat yang saya bisa ucapkan untuk masakan ini. Untuk sate, kamu bisa memesan langsung di dapur.

Sate Buntel Mbok Galak
Jl. Ki Mangun Sarkoro No.112, Sumber, Banjarsari, Banyuanyar, Sumber, Banjarsari, Kota Surakarta,
Buka: 08.00 – 19.00
Kisaran Harga: 40.000 per orang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…