Langsung ke konten utama

Coffee Person

Coffee person atau tea guy?

Kalau ini dengan tegas aku jawab coffee person.

Dalam sejarahnya, kopi diduga masuk ke nusantara pada sekitar tahun 1690 dengan diselundupkan oleh bangsa belanda dari kawasan Arab ke nusantara. Dengan aroma khasnya dan rangsangan yang ditimbulkannya, kopi dengan cepat populer di nusantara. Dan hingga sekarang, mungkin sebagian dari kita tidak akan melewatkan pagi hari tanpa kopi. Don’t talk to me before coffee, begitu istilah populernya.

Saya tidak ingat kapan saya berkenalan dengan kopi dengan sangat intense. Sewaktu kecil, orang tua saya menanamkan pemahaman kalau kopi itu adalah minuman orang dewasa, sehingga saya boleh meminum ketika saya sudah dewasa. Karena itu seingat saya, saya tidak intense atau setidaknya suka minum kopi hingga SMA. Begadangan saat itu bisa saya lalui tanpa kopi sedikitpun. Rasanya badan saya bisa diajak bekerja sama sampai malam tanpa berkenalan dengan minuman hitam itu. Bahkan sampai di awal kuliah, saya tidak suka minum kopi.

Saya menduga, saya berkenalan dengan kopi dengan sangat intense ketika saya masuk lab. Bukan karena saya jatuh cinta dengan senyawa bernama kafein, lebih karena lingkungan saya minum kopi sejati. Membahas paper sampai riset malam hari kami lalui dengan segelas kopi panas untuk masing-masing kami. Sekali dua kali, dan mulai keterusan. Dan tubuh ini mulai dirasuki biji-biji kopi nan harum itu. Mulai dari kopi susu yang lebih banyak susunya, hingga kopi hitam. Puncaknya saat masa-masa pengerjaan TA berlangsung. Saya tidak pernah melewatkan malam-malam TA  tanpa kopi. Yap, dan resmilah saya menjadi coffee person.
Penderita maag dan penikmat kopi, adalah dua kepribadian yang tidak bisa bersatu. Dan kesialan tersendiri jika itu berkumpul dalam satu tubuh. Perut yang sensitif memang tidak bersahabat dengan biji asli Ethiopia itu. Kopi yang sangat ringan menjadi pilihan terakhir jika tubuh butuh asupan kafein di pagi hari. Lupakan kopi artisan dengan keharumannya di pagi hari. Bolehlah kalau Anda mengajak saya ngopi-ngopi di malam hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…