Langsung ke konten utama

Belajar Bersyukur dari Fajar

Tubuhnya penuh luka. Kepalanya memar seperti dihantam sesuatu. Lemas memandangi sekitarnya. Dari sorot matanya tergambar perasaan sedih. Bagaimana tidak, kampung tempat dia dilahirkan dan dibesarkan rata dengan tanah dalam hitungan detik. Lapangan tempat dia biasa bermain sekarang menjadi barak-barak pengungsian. Tiada lagi tawa kegembiraan yang terdengar di kampung itu. Tawa anak-anak yang biasa bermain selepas sekolah tinggal kenangan. Obrolan santai ibu-ibu tidak nampak lagi. Semua kegembiraan itu tergantikan oleh jerit ketakutan dan tangis. Kampung itu hancur karena peristiwa yang tidak mungkin terlupakanoleh setiap benak kampung kecil itu. Gempa 6,8 SR membuat kampung itu tak berbentuk lagi. Tapi apapun yang terjadi,sikap anak itu tetap menunjukkan keteguhan jiwa yang kuat walaupun dia belum menginjak masa remaja.

Perlahan kudekati dia. Kusapa dengan hangat. Dia menyambutku dengan senyum penuh ketulusan. Ketika kau menatap wajahnya dalam-dalam, rasa haru segera menyeruak didalam dadamu. Mata indah itu menggambarkan ada sesuatu yang tengah berkecamuk di dalam hatinya. Tubuh kecilnya serasa tak berdaya memikul cobaan yang berat yang tengah menimpanya.
“Assalamualaikum” sapaku.
“Waalaikumsalam” jawabnya dengan suara agak parau.
”Dik,sudah makan?”
“Sudah Kak,tadi sudah dapat makan” jawabnya dengan logat sunda yang khas.
“Nggak main sama teman-temanmu yang lain?’
“Nanti saja Kak.”
“O..ya,Adik namanya siapa?”
“Fajar” jawabnya singkat.



Aku mulai memberanikan diri bertanya tentang peristiwa yang menimpanya. Kulihat kepalanya tidak sekedar memar, tetapi terlihat ada bekas jahitan.
“Fajar,kepalanya Fajar kenapa? Luka waktu gempa ya?” tanyaku dengan rasa takut kalau itu menyakiti hatinya.
“Iya kak,ini luka waktu gempa. Ketimpa kayu. Rumah Fajar rubuh.” Dia menghela nafas. Rasa perih dan sedih memenuhi isi dadanya. Dia meneruskan perkataannya “Tapi Fajar masih bersyukur. Kepala Fajar cuma dijahit. Kakak Fajar meninggal kak. Waktu mau keluar rumah,kakak Fajar ketima dinding yang roboh. Alhamdulillah Fajar masih bisa hidup”

Aku cukup tersentak dengan jawabannya. Aku tidak menyangka bahwa anak sekecil itu bisa berkata seperti itu. Di dalam keadaan kehilangan rumah dan kakaknya dia masih bisa bersyukur. Dia juga tidak pernah menyalahkan Allah. “Inikan sudah takdir-Nya, jadi buat apa Fajar bersedih”. Keadaan menyakitkan itu tidak menjadikan Fajar,anak yang belum genap 13 tahun, tidak melupakan dan mengabaikan rasa syukur terhadap karunia dan ketentuan-Nya. Rasa percaya kepada Allah yang membuat Fajar masih mempunyai semangat hidup di tengah keputusasaan penduduk lainnya. Fajar masih bisa membangun harapan di tengah runtuhnya rumah-rumah di kampungnya. Selayaknya kita dapat belajar tentang syukur dan sabar dari seorang fajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Menikmati Kampung Ramadhan Jogokaryan

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)