Langsung ke konten utama

Mereka Ada di Sekitar Kita

Siang itu,rasanya matahari ada sejengkal di atas kepalaku. Panas menyengat. Kepalaku serasa retak di buatnya. Begini saja sudah tidak tahan,bagaimana aku akan bertahan di padang mahsyar nanti. Saat itu aku mengendarai motorku di sekitar jalan Setia Budi kota Bandung. Kuputuskan untuk sholat dzuhur dulu di masjid Daruut Tauhiid. Air wudlu serasa menghilangkan rasa panas yang kualami hari ini. Setelah sholat aku duduk-duduk dulu di dalam masjid.Kulihat sekitar,banyak orang sibuk dengan ibadah kepada Allah. Rasanya hanya aku, yang tidak tahu diri,hanya diam tidak bermakna. Ditambah rasa kantuk mulai menyerangku yang tidak kenal kasihan. Menyerangku di tempat yang tidak tepat.

Tidak berapa lama,serombongan jamaah datang. Entah mereka jamaah dari mana. Yang jelas mereka masuk dan meninggalkan alas kaki mereka dengan tidak beraturan di depan masjid. Aku hanya memandangi mereka tanpa melakukan apapun. Stelah jamaah itu masuk ke dalam masjid,keluarlah seorang pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) dari kantor DKM. Dengan senyum tulus yang mengembang di bibirnya, dia menata sandal dan sepatu rombongan jamaah yang baru masuk tadi. Ditatanya alas kaki itu agar mudah untuk dipakai sewaktu jamaah meninggalkan masjid.

Mungkin kehadirannya tidak disadari oleh jamaah. Tetapi dia dengan senang menata alas kaki dengan tidak mengharapkan pujian ataupun penghargaan dari seseorang. Kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa sederhana ini. Ternyata banyak orang yang telah berjasa kepada kita tetapi kita tidak mengucapkan terima kasih kepada mereka. Jangankan mengucapkan terima kasih, kehadirannya pun tidak kita sadari. Mungkin kita terlalu sering merasakan jasa mereka sampai kita tidak menyadari keberadaan mereka. Pernahkah anda membayangkan bagaimana jadinya anda ketika tukang sampah keliling mogok kerja? Pasti lingkungan rumah kita kotor. Walaupun mereka berjasa besar kepada kita,tetapi kita jarang menyadari keberadaan seorang tukang sampah.

Kita jarang menyadari peran orang sekitar dalam kehidupan kita. Kita menganggap itu hal biasa sehingga kita terlalaikan bahwa kita dibantu oleh orang yang mungkin tidak kenal. Pernahkah kita menyadari keberadaan mereka padahal mereka ada di sekitar kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…