Langsung ke konten utama

Catatan Kecil tentang Kritik dan Karya

Sore itu seorang kawan mengomentari sebuah selebaran propaganda yang dibuat oleh salah satu organisasi pergerakan mahasiswa. Propaganda itu berisi tentang kenaikan harga BBM dan menawarkan solusi dengan menggunakan suatu sistem. Kawanku itu berkata, “Kalo bikin tulisan, lebih berkelas sedikit lah!” Saya sendiri sebenarnya kurang sependapat dengan isi dan solusi yang ditawarkan propaganda itu, tetapi saya tidak berani menghujat, karena saya tahu membuat tulisan propaganda politik itu tidaklah mudah. Diperlukan pemikiran, data, dan analisa yang cukup untuk membuat sebuah tulisan propaganda politik. Diperlukan sebuah niat yang besar untuk merampungkan sebuah tulisan, dan diperlukan keberanian yang hebat untuk mencetak dan menyebarkannya.

Saya pernah merasakan kekecewaan karena kalah lomba menulis, dan saya tahu bagaimana susahnya bikin tulisan propaganda yang bagus. Sangat sombong rasanya ketika saya ikut-ikutan mencerca tulisan orang lain sekalipun saya tidak setuju isi dari tulisan tersebut. Sering dulu saya meremehkan novel atau karya tulisan orang lain. Setelah saya renungkan, saya bisa mencerca dan meremehkan tulisan orang lain sebelum saya belajar menulis. Setelah belajar menulis, berpikir ulang untuk mencerca karya orang lain.

Teringat sebuah kalimat yang diutarakan oleh seorang sahabat, @aldamonn. Dia berkata “Jangan mengatakan lagu seseoarang itu jelek, tapi katakanlah lagu itu terdengar sedikit aneh di telingaku, karena setiap orang berbeda selera musiknya” dan dia juga berkata “jangan menilai lagu dari penyanyinya.” Saya berpikir, kalimat ini hanya bisa diucapkan oleh seorang penyanyi dan pencipta lagu, karena memang @aldamonn merupakan penyanyi dan pencipta lagu. Hanya orang yang tahu dan mengalami susahnya bikin lagu yang bisa berkata seperti itu. Rasanya mustahil kalimat itu muncul dan terucap dari seseorang yang jauh dari dunia tarik suara dan lagu.

Apakah tidak boleh kita mengkritik suatu karya seseorang? Tentu saja boleh, bahkan seseorang yang menghasilkan karya sangat perlu dan butuh kiritikan dari penikmat karyanya, tetapi sebagain seseorang yang terdidik, kita harus bisa membedakan kritik dan cerca. Kritik itu didasari oleh sebuah pemahaman, sedangkan cerca lebih didasari ketidaksukaan dan emosi. Megungkapkan kritikan seharusnya lebih elegan dan lebih cerdas dibanding melontarkan cercaan. “Serang-menyerang” merupakan sesuatu yang lumrah dalam alam demokrasi, tetapi yang membedakan kelas seseorang adalah cara pengungkapan. Saya rasa cara seseorang mengapresiasi sebuah karya dapat menggambarkan pemahaman seseorang terhadap karya tersebut. Ketika seseorang paham akan sebuah karya, maka semakin elegan dalam mengungkapkan apresiasi dan kritiknya.

Kalau boleh mencontek perkataan @aldamonn, katakan saja.”Jangan katakan tulisan orang lain jelek, katakan saja saya tidak sepaham dan berbeda selera sastra dengan Anda”

Mari belajar bersama mengapresiasi setiap karya anak bangsa...

Salam Optimis untuk Indonesia.

@Hardian_cahya

Komentar

  1. makin bijak deh mas iniii... :D

    -@aldamonn-

    BalasHapus
  2. ^^
    "Tulisan ini nampaknya agak berat untuk saya baca"
    hahaha

    OK.,saya akan gunakan kalimat lain (yang lebih enak didengar/dibaca) untuk mengomentari karya orang lain
    ^^
    *nice reminder *sankyu

    @adit_dK

    BalasHapus
  3. kritik, semua boleh d kritik kok. Pengamat Bola juga jago pisan kalau mengkritik permainan weh analisisnya kesana kemari. Tapi, sebenernya dia bsa melakukan g sih? Relatif :D

    M. Fadhli Ali

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 1)

Surga Kuliner itu Bernama Solo (part 2)

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…