Convenience Store Woman: Kisah cinta mbak-mbak Indomaret - Catatan Kecil

Kamis, 07 Maret 2019

Convenience Store Woman: Kisah cinta mbak-mbak Indomaret

Mungkin convenience store, atau yang saya artikan toko serba ada, menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mungkin Anda pergi ke toko serba ada minimal seminggu sekali untuk membeli beberapa kebutuhan harian atau sekadar membeli minuman dingin di kala hari yang terik. Tapi pernahkah Anda memperhatikan pelayan toko yang mengucapkan dengan riang “Selamat datang di In**maret, selamat berbelanja” setiap Anda memasuki toko tersebut?




Dengan segala keterbatasan kemampuan Bahasa inggris yang saya miliki, akhirnya saya berhasil selesai membaca novel ini. Dan izinkan saya berbagi sedikit ulasan tentang novel Convenience Store Woman tulisan Sayaka Murata.


Sayaka Murata memotret kehidupan pelayan toko serba ada tersebut ke dalam sebuah novel. aNovel ini berkisah tentang seorang wanita penjaga toko seba ada berumur 36 tahun. Wanita ini telah dilabeli oleh orang-orang sekitarnya mempunyai kepribadian yang aneh. Bahkan keluarga terdekatnya pun menganggap dia sakit. Bertindak di luar kewajaran, tidak ada ketertarikan atau terpikir untuk mempunyai hubungan khusus dengan laki-laki atau tidak terpikir untuk menikah. Yang dia cintai adalah pekerjaannya sebagai karyawan penjaga toko serba ada. Novel ini memotret kisah cinta seorang wanita dengan toko serba ada.

Keiko Furukura, nama wanita tersebut, telah menjalani pekerjaannya selama 18 tahun sejak toko ini berdiri. Mungkin tipikal orang Jepang yang sangat mencintai pekerjaannya dengan sangat total. Bahkan bunyi pintu terbuka, denting koin dari pelanggan, ataupun bunyi minuman kaleng yang dibuka sudah menjadi bebunyian yang menjadi satu di hidupnya. Dia bisa menguasai bagaimana meletakkan barang dagangan, kapan harus menyiapkan minuman atau makanan promo di jam sibuk, dan dia bisa memprediksi dengan sangat presisi makanan apa yang akan terjual banyak jika hari akan hujan. Ya, tidak salah jika wanita aneh ini sudah jatuh cinta dengan toko.

Permasalahan mulai muncul ketika seorang laki-laki bernama Shiraha datang ke toko itu sebagai pegawai baru yang bermasalah. Lika-liku konflik Keiko dan Shiraha menjadi bagian yang penting dari novel ini dan menentukan ke mana cerita novel ini berakhir.

Bagian yang saya suka dari novel ini adalah penulis berhasil memotret bagaimana kehidupan social di Jepang bisa menekan seseorang yang dianggap tidak biasa oleh masyarakat menjadi pribadi yang lain. Menjadi pribadi yang umum diterima masyarakat walaupun dia sendiri tidak suka. Keresahan akan tekanan sosial ini yang juga mewakili keresahan masyarakat di Indonesia pada umumnya. Basa-basi busuk macam “Kapan nikah?” cukup berbahaya untuk orang lain. Ada yang menyerah pada desakan social ini sehingga akhirnya berubah menjadi pribadi yang masyarakat inginkan. Ada yang tetap nyaman menjadi pribadi yang dia suka walaupun dipandang miring. Yap, keresahan ini lah yang menjadi tema utama cerita novel ini.

Bagian yang saya tidak suka adalah penulis terlalu lambat menuliskan cerita pada bagian awal dan mempersingkat bagian konflik dan penyelesaian. Terkesan ngebut di bagian akhir. Mungkin penulis ingin memperkuat karakter dan alasan pada bagian awal agar karakter Keiko ini bisa dipahami dan diterima oleh banyak orang.

Novel ini cukup tipis untuk dinikmati. Jika Anda tertarik bagaimana kehidupan social di Jepang disajikan secara unik, buku ini layak Anda baca.

Salam Hangat dari Hardian Cahya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar