Langsung ke konten utama

Menyalakan Harapan dari Tulin Onsoi


Kalau kata orang, cara paling mudah untuk memprediksi masa depan adalah merancangnya saat ini dan terus bekerja untuk mewujudkannya. Dan pertanyaan itu kembali berkembang, bagaimana cara mudah memprediksi masa depan bangsa ini? Perhatikan anak-anaknya, dan bekerja keraslah untuk menyiapkan mereka untuk menjadi penerus masa depan bangsa ini. Dengan apa? Tentu saja pendidikan. Dan diantara masalah yang berderet di dunia pendidikan, yang senyatanya berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak adalah guru.

Di Tulin Onsoi, sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, kita terlalu jauh bila kita bicara Industrial Revolution 4.0, atau paper yang dikeluarkan World Economic Forum tentang skills 2020. Mungkin terlalu keras mengatakan bahwa tema-tema itu hanya untuk pulau jawa. Tidak di Tulin Onsoi. Tema yang dibicarakan guru-guru mulia nan ikhlas di sana adalah bagaimana menghadirkan anak-anak di ruang kelas ketika upacara adat berlangsung berhari-hari, bagaimana memotivasi anak-anak untuk lanjut ke pendidikan lebih tinggi dan tidak menikah selepas sekolah dasar, dan bagaimana membangkitkan semangat anak-anak untuk membaca. Sehari-hari mereka berjuang dengan isu-isu dasar itu.

Dengan semangat ingin berbagi, kami berlima berangkat ke Tulin Onsoi dari Jakarta. Di bawah naungan bendera RuBIxPPIDunia, dengan hati yang penuh pertanyaan kami pun mendarat di bandara Tarakan. Dalam daftar relawan tercatan 9 relawan narasumber dan 3 relawan dokumentator. Pada nyatanya yang menjejakkan kaki di Tarakan adalah 4 relawan narasumber dan saya sendiri sebagai relawan dokumentator. “Ini beneran cuma kita nih yang berangkat?”  But show must go on right? Dari bandara Tarakan kami naik taksi bandara ke pelabuhan Pelabuhan Juwata. Dari Pelabuhan Juwata, kami naik speed boad ke Pelabuhan Pembeliangan dengan memakan waktu 4 jam. Dari Pembeliangan kami disambut oleh Pengajar Muda yang bertugas di sana. Berbekal kendaraan pinjaman dari Pak Danrem, kami menuju Tulin Onsoi yang memakan waktu 1 jam melewati jalanan berdebu kadang berbatu. Di rumah orang tua salah satu PM lah kami menginap sekaligus basecamp RuBI Tulin Onsoi. Mamak dan Bapak dengan sangat ramah menyambut kami.

Sekilas tentang Ruang Berbagi Ilmu atau disingkat RuBI, ini adalah salah satu gerakan dari Yayasan Indonesia Mengajar. Gerakan ini memanggil beberapa relawan untuk berbagi ilmu dengan penggerak pendidikan lokal dengan tema-tema tertentu sesuia dengan kebutuhan penggerak pendidikan setempat.

Untuk RuBI Tulin Onsoi kali ini mengangkat tema guruku kreatif dan solutif. Bahasan yang dibawakan adalah Konseling dan Metode Belajar Kreatif. Tema konseling dibawakan agar guru-guru di Tulin Onsoi dapat menangani masalah murid dengan persuasif. Materi ini dibawakan dengan sangat apik oleh Azmi dan Ninette. Dengan latar pendidikan psikologi, guru-guru dikenalkan dengan prinsip dasar mendengar aktif dan disiplin positif. Para guru juga diajak untuk membuat studi kasus di sekolah masing-masing. Seketika studi kasus ini menjadi ajang curhat para guru yang menemui masalah yang beragam di sekolah mereka. Di hari kedua, materi yang dibawakan adalah Metode Belajar Kreatif. Para guru diajak bersama-sama menemukan cara-cara baru dalam membawakan materi di kelas. Para guru juga diajak untuk membuat alat peraga sederhana yang terbuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar mereka. Tidak seperti di hari pertama yang cenderung serius, di hari kedua diisi dengan penuh keseruan dan gelak tawa. Di hari kedua ini sekaligus menjadi penutup rangkaian Ruang Berbagi Ilmu Tulin Onsoi.

RuBI ini bukanlah sekadar kumpulan Event Organizer, Pengisi Materi, Tukang Foto dan guru yang berkumpul di suatu tempat. Bukan. Ini adalah usaha menyalakan harapan. Meidika, salah satu PM Tulin Onsoi, bercerita padaku bahwa banyak guru di Tulin Onsoi sebenarnya mempunyai potensi. Tapi kepercayaan diri mereka dibatasi semak-semak kelapa sawit yang mengelilingi desa mereka. Perlu dorongan agar mereka menggunakan potensi yang dimiliki. Dengan pembekalan secara terus menerus diharapkan mengisi tangki kepercayaan guru-guru ini. Kalau berbicara tentang materi RuBI kali ini, kita dengan gampang menemukannya di internet. Jaringan 4G Telkomsel juga sudah masuk di pusat kecamatan. Logikanya informasi mereka mudah dapatkan. Tapi sadarkah kita ada jarak antara kemudahan akses informasi dengan kesadaran informasi? Kesadaran menggunakan internet untuk menunjang aktifitas sehari-hari mungkin masih harus didorong untuk lebih maksimal.

Keluarlah, berpetualanglah, dan berbagilah, maka kau akan mendapat lebih banyak. Lebih banyak hal-hal yang tak pernah kau temui sebelumnya. Masalah yang kau kira hanya dongeng dan cerita akan kau temui dengan sangat nyata. Pernikahan dini yang kau hanya “pernah mendengar”, kini kau saksikan di depan matamu. Namun  di saat yang sama, kau akan mendapatkan jiwa-jiwa pejuang yang ditularkan oleh guru-guru di sana untuk membuat republik ini menjadi lebih baik. Dan kembali ke pertanyaan, bagaimana cara paling mudah untuk memprediksi masa depan bangsa ini? Jadilah pejuang pendidikan.

Salam hormat saya untuk seluruh penggerak pendidikan di seluruh pelosok negeri ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Buku, Convenience Store Woman, kisah cinta seorang wanita aneh dengan toko serba ada

Mungkin convenience store, atau yang saya artikan toko serba ada, menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mungkin Anda pergi ke toko serba ada minimal seminggu sekali untuk membeli beberapa kebutuhan harian atau sekadar membeli minuman dingin di kala hari yang terik. Tapi pernahkah Anda memperhatikan pelayan toko yang mengucapkan dengan riang “Selamat datang di In**maret, selamat berbelanja” setiap Anda memasuki toko tersebut?

UWRF, Nunggu Boarding

Catatan ini ditulis di bandara sambil menunggu boarding. Sebelum subuh saya sudah rapi dengan minyak wangi dan mata yang berkedip 5watt. Hari ini saya akan menuju Bali, tepatnya di daerah ubud. Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) begitu nama acara yang membuatku rela cuti dua hari di tengah gempuran kerjaan dari Pak GM. Meninggalkan kantor dua hari memang tidak pernah mudah, tapi melewatkn UWRF bukan pilihan yang menarik untuk diambil. Entah dari bulan kapan, saya sudah merencanakan untuk hadir. Berbekal tiket terusan early bird, tiket sakti sriwijaya, dan hostel murah di ubud, saya beranikan diri berangkat.

Mulanya saya tidak ingat kapan saya mengenal acara ini. Kemungkinan dari instagram penulis-penulis sakti macam Aan Mansyur atau Dee yang hadir tahun lalu. Saya sebagai penulis pembaca, merasa sayang untuk melewatkan acara ini. Sebenarnya acara macam ini juga ada di Jakarta. Salah satunya International Writer Festival. Tapi daya pesona ubud memang membuat acara satu ini begitu m…