Pengalaman Membaca Raditya Dika - Catatan Kecil

Minggu, 18 Oktober 2020

Pengalaman Membaca Raditya Dika

Raditya Dika, seorang creator dan story teller yang cukup fenomenal. Sejak kemunculanya pada tahun 2005, Raditya Dika merambah ke berbagai bentuk story telling, mulai dari buku, stand up comedy, mini series, dan film. Untuk mini series dan filmnya, Raditya Dika mengambil peran sebagai penulis scenario, sutradara, dan pemain peran. Dan dari semua lini produknya dia, satu roh yang mendasari itu semua, komedi.

 

Saya menonton sebagian besar film Raditya Dika, menonton mini series dan stand up comedynya di Youtube. Dari ketiga bentuk karya itu, saya hanya bisa menikmati stand up comedy. Komedi dalam film dan mini series tidak bisa saya menikmati dalam artian lelucon yang dituangkan dalam film dan mini series tidak bisa membuat saya tertawa. Karena itu saya penasaran dengan bentuk karya satu lagi, buku. Apakah saya bisa menikmati buku Raditya Dika? Itulah yang membuat saya penasaran.

 

Saya memilih buku pertama dan terakhirnya, walaupun pada akhirnya saya menyadari saya salah beli. Saya membeli buku Kambing Jantan dan Koala Kumal. Setelah selesai membaca keduanya, saya baru tahu kalau Koala Kumal itu bukan buku terakhirnya. Masih ada satu judul buku terakhirnya yaitu Ubur-ubur Lembur. Tapi ya sudahlah ya.

 

Tulisan ini bukanlah ulasan buku, namun hanya sharing pengalaman saat membaca kedua buku tersebut. Saya membaca dua buku tersebut secara parallel, maksudnya tidak menunggu satu buku selesai lalu membaca buku yang lain. Saya langsung merasakan lompatan gaya penulisan Raditya Dika.

 

Mari kita bahas satu per satu bukunya.

 

Kambing Jantan, buku yang terbit pada tahun 2005, namun saya baru mendengar judul buku itu di tahun 2007 atau 2008 saat saya masih SMA. Maklum, saya tinggal di kota terpencil, jadi akses buku baru tidaklah begitu lancar. Berawal tulisan blog pribadi Raditya Dika selama dia pelajar dan mahasiswa yang kemudian dikumpulkan menjadi satu dan dibukukan. Berisi kisah-kisah lucu dan kejadian konyol yang dia alami sehari-hari.

 

Saat membaca Kambing Jantan ini, saya mencoba memungut lagi memori dan membayangkan saya saat SMA agar saya cukup relevan dengan tulisannya. Setelah membaca, tidak heran buku ini meledak di kalangan remaja. Gaya penulisan yang dipakai sangat ringan namun tidak jamak dipakai dalam buku-buku saat itu, sehingga menjadikan buku ini menjadi sangat unik. Saya masih ingat gaya itu pada akhirnya ngetrend di kalangan remaja, dan dicoba dipakai oleh banyak remaja dalam menulis di blog, Friendster, atau facebook.

 

Jika dirangkum menjadi satu kata saat membaca Kambing Jantan adalah, menyenangkan. Saya bisa merasakan kejujuran dan otentiknya seorang Raditya Dika di buku ini. Seperti menulis lepas di blognya tanpa membayangkan tulisan ini menjadi buku. Karena memang berasal dari blog, jadi membaca Kambing Jantan ini seperti membaca blog pribadi, bukan buku komedi. Struktur bahasanya tidak sebagus buku, tapi tidak chaos karena saya yakin ini pasti juga melalui tangan editor.

 

Koala Kumal, buku yang terbit pada tahun 2015, 10 tahun setelah Kambing Jantan. Buku ini mempunyai tema komedi patah hati. Pada bagian awal, buku ini berisi tentang pengalaman dia saat kecil, pada bagian tengah adalah pengalaman pacarana saat remana, dan pada bagian akhir, barulah berisi tentang patah hati. Struktur yang dipakai dalam buku ini sudah sangat baik. Memang diniatkan menulis untuk buku. Struktur komedi yang dibangu juga sudah sangat rapi. Ada premis dan punchlinenya.

 

Jika kembali ke pertanyaan awal, apakah saya bisa menikmati komedi Raditya Dika dalam bentuk buku? Kalau harus memilih ya dan tidak, saya akan menjawab tidak. Saya menikmati kedua buku itu, dan bisa membacanya sampai habis, namun tidak cukup membuat saya tertawa. Saya tidak tahu apakah memang ekspektasi saya yang terlalu tinggi, atau buku komedi memang seperti ini. Entahlah. Mungkin kalau memang Raditya Dika mengeluarkan karya lagi, saya akan memilih yang dalam bentuk stand up comedy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar