Mencari Kota Pengganti - Catatan Kecil

Minggu, 09 Januari 2022

Mencari Kota Pengganti

Beberapa tahun terakhir, ada wacana untuk memindahkan ibukota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan. Mencari kota pengganti yang tidak layak huni bukan merupakan hal baru bagi Jakarta. Orang-orang VOC sudah melakukannya di akhir abad 18. Mereka mencari kawasan yang lebih layak huni dan meninggalkan kawasan yang lama.

 

Pada akhir abad 18, Batavia mengalami kemunduran. Kemunduran ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah kemunduran industri gula di Batavia. Industri gula yang menopang Batavia merosot karena pembantaian dan pengusiran orang Cina pada tahun 1740, padahal orang Cina merupakan petani dan pekerja utama industri gula di Batavia. Orang Eropa saat itu tidak mempunyai pengalaman dan budaya untuk bertani, sehingga industri gula tidak tertolong. Artinya ekonomi penyangga kota Batavia juga runtuh.

 

Penyebab kedua adalah sistem kanalisasi yang tidak bekerja maksimal. Batavia dibagun dengan konsep semirip mungkin dengan Amsterdam. Kanal-kanal air dibangun di kota Batavia untuk berbagai keperluan seperti transportasi dan drainase. Hal yang tidak disadari adalah, tanah di Batavia (dan Jakarta bagian utara) adalah tanah rawa. Tanahnya cenderung berlumpur. Ditambah lagi aliran lumpur dari sisi hulu karena pembabatan hutan. Akibatnya kanal di Batavia sering menjadi genangan lumpur dan air. Tidak mengalir. Akibatnya banyak penyakit yang muncul karena genangan air. Penyakit paling masif saat itu adalah malaria. Penyakit ini juga yang membunuh JP.Coen, pemimpin VOC saat itu

 

Semakin tidak layak huni Batavia dan semakin berkembangnya daerah di luar kota Batavia seperti kanal Molenviel (sekarang Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk), mereka membuka kemungkinan memindahkan konsentrasi kota ke daerah Weltervreden. Untuk gambaran, daerah Weltervreden ini membentang dari RSPAD Gatot Subroto sampai Museum Gajah, dengan Koningsplein (Lapangan Raja/Lapangan Merdeka/Lapangan Monas) sebagai pusat daerah. Weltervreden juga bisa merujuk ke daerah sekitar Lapangan Banteng. Dengan cepat menjadi daerah elit bagi bangsa Eropa.

 

Bagaimana dengan nasib Batavia? Mereka masih menggunakannnya sebagai daerah kantor pelabuhan. Siang hari, masih ramai orang untuk bekerja di daerah Batavia, namun malam hari Batavia menjadi sepi. Hanya orang Jawa dan Cina yang tidak mampu membeli rumah di Weltervreden yang tinggal di Batavia. Tembok yang mengelilingi Batavia diruntuhkan. Bata-bata bekasnya digunakan Daendles, Gubernur Jendral saat itu, untuk membangun calon istananya (sekarang gedung Kementerian Keuangan)

 

Sampai sekarang, Weltervreden tetap menjadi kawasan penting bagi Jakarta. Di sana berdiri kantor-kantor pemerintahan pusat, termasuk istana presiden. Namun, hal ini tidak lama lagi juga akan ditinggalkan. Apakah pendekatan ini akan kita terus pakai? Semoga tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar