Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Kereta malam ini

Menjejaki setiap meter mendekat ke kota itu
Kota yang menjadi nyawa dalam ceritaku
Aku dibawa sajakku ke sanaTuhan memang tak pernah menjanjikan sesuatu itu selalu sama
Perjalanan ini pun menjadi cerita yang berbeda
Dan aku tak suka dengan ituAku meninggalkan cerita lama dengan manis di setiap meternya
Berdamai dengan cerita baru di ujung rel ini
Dan menyusun sajak baru di sanaDitulis di atas rel ke Bandung
3 November 2015

Semangat Pagi

Pernahkah engkau merasa sangat sedih? Seakan engkau dihukum oleh kehidupan. Tidak ada orang bersamamu, dan tidak ada alasan lagi untukmu berjalan. Aku pernah, dulu.
Lalu aku berbaring di kamar kakakku. Kulihat sebuah kertas kecil yang tertempel di dinding. Seketika aku tersenyum. Merasa menjelma menjadi seorang jendral dengan ratusan ribu bala tentara di belakang yang siap menghadapi apa yang di depan.
Pernahkah engkau bingung mau ke mana, dan rasanya tiada energi untuk sekadar bangun. Merasa sendiri di tengah ramainya kota, dan merasa tiada orang yang tersenyum padamu. Aku pernah, tadi.
Pagi ini aku buka HPku dan melihat beberapa foto di dunia maya. Kutemukan sebuah foto dengan tulisan. Seketika aku tersenyum, dan seakan menjelma menjadi seorang direktur dengan ribuan pegawai dengan visi yang sama.
Kertas yang tertempel di kamar dan foto tadi mempunyai tulisan yang sama:
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling t…

Terlibat

Aku tak ingin menjadi seperti pygmalion
Yang jatuh cinta pada galatea
Dan pada dewa-dewi ia meminta
Untuk menjadikannya nyata
Aku tak ingin menjadi seperti dalang
Yang jatuh cinta pada sinta
Dan menghadang rama dan rahwana
Lalu membunuh keduanya

Diam

Hatiku tidak bersamaku saat ini. Dia memilih duduk-duduk beberapa meter dari tempatku duduk bersama wanita yang memunggungiku saat ini. Wanita itu mendiamkan hatiku yang berteriak tepat ditelinganya. Diamnya tak memutuskan usahanya untuk memasukkan pesan-pesan manis nan basi ke telinganya. Aku yang duduk memandangi hatiku dan wanita itu mulai resah. Kenapa hati itu tetap berusaha dalam diamnya wanita? Apakah hatiku terlalu bodoh untuk melangkah mundur dan kembali bersamaku?

Putus

Ruang tunggu ini tidaklah terlalu luas. Hanya 5x5 meter, terdapat 9 kursi dan 3 meja. Namun ruang itu dipenuhi beberapa orang yang hendak menonton film pendek. Aku kira ada 20 sampai 30 orang disitu. Beberapa berdiri, beberapa memilih menunggu sambli merokok di luar. Aku datang sendiri ke tempat itu. Aku menemukan hobi baru, menonton film pendek. Duh, serasa seniman sekali. Padahal soal nada, aku tak bisa bedakan antara fals dan etnik. Menggambar? Mungkin lukisan pemandangan dua gunung dan sawah yang kubuat pada waktu SMA adalah karya terbaikku.
Berdiri sambil melihat ke handphoneku. Mungkin ada yang menghubungiku. Ternyata tidak, sepi. Seperti malam minggu yang lain. Semua orang di situ terasa normal. Hanya satu orang yang menarik perhatianku. Seorang lelaki yang duduk di pojok. Kulitnya putih, bermata sipit. Aku kira umurnya tidak lebih dari 30. Berkaus hitam, bercelana katun hitam, dan bersepatu pantofel hitam bersih. Rapi sekali untuk sekelas orang yang hobi menonton film pendek.…

Sesederhana itu

Ketika kesederhanaan menjadi sebuah kemewahan
Ketika bahagia dan kesedihan jadi rancu dalam definisinya
Aku mau membeli kesederhanaan itu
Aku mau mencari definisi ituMerindukan akal sehat sebagai hakim
Merindukan logika sebagai pengadil
Merindukan hati nurani sebagai penyeimbang
Merindukan iman sebagai pengambil keputusan Membuat keputusan besar untuk mengembalikan kesederhanaan
Kesederhanaan berpikir
Kesederhanaan merasa
Kesederhanaan bahagia
Langkah besar itu berat
Langkah besar itu kadang perih
Tapi pada akhirnya dia akan mengembalikan kesederhanaan ituBahagia itu sederhana, tapi pikiran kita yang menutupinya


Kemang, 13 September 2015
Dalam kegalauan mencari akal sehat

Separuh Hadir

Engkau yang bersamaku saat iniMenatap matamu yang kosong ituTubuhmu hadir tapi ruhmu tidakTawamu terdengar tapi bahagiamu lenyap

Engkau yang terjebak pada masa lalumuTidakkah kau bisa bersamaku dengan utuh?Berjalan dan bergandengan tangan denganku dengan seutuhnya dirimu

Engkau yang terus meronta darikuKu coba menggenggammu sekuat tenagaKuat dan rapatTapi tanganku mulai lemah, dan menyerahBukan aku tak berusaha, tapi aku tak kuasa

Melepasmu bukan keinginan, menahanmu bukan jawabanMenunggumu menari sampai dirimu lelah, dan kembali padakuItu pun cuma jika engkau mau kembali


Kemang, 5 September 2015Insipired from Korean Drama, Hello Monster
Seriusan, bukan puisi galau. Cuma keisengan waktu baca sajaknya Rendra sambil nonton K-Drama

Membagi hidup di beberapa Horcrux

Tulisan ini disponsori oleh obrolan ringan dengan Pak Adit mengenai pilar-pilar hidup. "Jangan sampai pilar-pilar hidup kita terlalu sedikit. Resikonya adalah, ketika salah satu pilar itu bermasalah, kita akan gampang stress". Pilar di sini adalah hal-hal yang membuat kita merasa hidup dan punya arti hidup. Bisa kegiatan, benda, jabatan, atau hal-hal yang melekat di diri kita. Ada orang yang merasa hidup ketika kariernya cemerlang, atau keluarganya sejahtera, atau kegiatan sosialnya sukses dan berguna untuk orang banyak.
Ibarat Lord Voldemort yang membagi nyawanya menjadi tujuh benda yang disebut Horcrux. Dia akan hidup abadi jika tujuh benda tersebut tetap utuh. Voldemort bisa dibunuh ketika tujuh Horcrux tersebut dihancurkan.
Seperti hal tersebut. Kita bisa menitipkan "Hidup" kita di beberapa Horcrux. Tujuannya apa? Agar ketika salah satu Horcrux tersebut bermasalah, kita relatif lebih kebal terhadap stress. Setiap orang berhak membuat Horcruxnya sendiri, baik juml…

Kutukan Pak Suko

Saya menyebut ini dengan kutukan Pak Suko. Bukan karena Pak Suko mengutuk saya sehingga punya kebiasaan ini, tapi karena kebiasaan ini menurun dari Pak Suko.
Pak Suko Wiyono adalah guru seni saya waktu SMP. Guru yang mempunyai desikasi penuh terhadap seni. Belajar arti totalitas, passion, kerja keras, dan kreativitas langsung dari beliau adalah kehormatan bagi saya. Ya mungkin beliau adalah orang yang berhasil menyentuhkan saya kepada seni.
Saat itu SMPN 1 Blitar mempunyai acara pentas seni di akhir tahun. Setiap kelas wajib mempertunjukkan penampilan tari dan musik di hadapan wali murid. Dan mulailah setiap kelas membuat musik dan tari dengan bimbingan Pak Suko. Saat itu saya tergabung ke dalam pemain musik kelas 2D. Nah, disinilah kutukan itu dimulai.
Pak Suko terbiasa membuat musik pada malam hari. Yap, di atas jam 12 malam. Kami sering menginap di sekolah untuk mempersiapkan pertunjukan itu. Membuat musik selalu di malam hari, siangnya mematangkan apa yang telah dikonsep. Alasanya, &…