Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Fenomena di Mesin ATM

Pernahkah anda membaca tulisan yang berbunyi ”Cetak Resi? Jika tidak saldo anda akan ditampilkan di layar.” Ya, tulisan itu muncul ketika anda menarik uang di ATM.
Ada fenomena menarik terjadi di mesin ATM (setidaknya yang saya kunjungi). Di setiap mesin ATM yang saya kunjungi selalu bertebaran kertas resi yang di buang begitu saja oleh pengguna ATM. Atau tempat sampah yang disediakan penuh dengan kertas resi. Saya berpikir mengapa harus dicetak kalau hanya dibaca sekali lalu di buang? Mengapa tidak melihat jumlah saldo di layar ATM saja?

Kita sering mendengar tentang aksi penyelamatan bumi. Kita mungkin pernah atau sering mengikuti seminar tentang global warming. Tapi kita sering lupa bertindak untuk menyelamatkan bumi. Kalau kita tidak bisa bertindak dalam skala besar,mengapa kita tidak bertindak mulai dari skala kecil? Dalam fenomena mesin ATM tadi, penyelamatan bumi bisa kita mulai sana. Kita menyelamatkan bumi dengan tidak mencetak resi transaksi jika tidak diperlukan.

Ada konsep pe…

Mereka Ada di Sekitar Kita

Siang itu,rasanya matahari ada sejengkal di atas kepalaku. Panas menyengat. Kepalaku serasa retak di buatnya. Begini saja sudah tidak tahan,bagaimana aku akan bertahan di padang mahsyar nanti. Saat itu aku mengendarai motorku di sekitar jalan Setia Budi kota Bandung. Kuputuskan untuk sholat dzuhur dulu di masjid Daruut Tauhiid. Air wudlu serasa menghilangkan rasa panas yang kualami hari ini. Setelah sholat aku duduk-duduk dulu di dalam masjid.Kulihat sekitar,banyak orang sibuk dengan ibadah kepada Allah. Rasanya hanya aku, yang tidak tahu diri,hanya diam tidak bermakna. Ditambah rasa kantuk mulai menyerangku yang tidak kenal kasihan. Menyerangku di tempat yang tidak tepat.

Tidak berapa lama,serombongan jamaah datang. Entah mereka jamaah dari mana. Yang jelas mereka masuk dan meninggalkan alas kaki mereka dengan tidak beraturan di depan masjid. Aku hanya memandangi mereka tanpa melakukan apapun. Stelah jamaah itu masuk ke dalam masjid,keluarlah seorang pengurus Dewan Kesejahteraan Masji…

Belajar Bersyukur dari Fajar

Tubuhnya penuh luka. Kepalanya memar seperti dihantam sesuatu. Lemas memandangi sekitarnya. Dari sorot matanya tergambar perasaan sedih. Bagaimana tidak, kampung tempat dia dilahirkan dan dibesarkan rata dengan tanah dalam hitungan detik. Lapangan tempat dia biasa bermain sekarang menjadi barak-barak pengungsian. Tiada lagi tawa kegembiraan yang terdengar di kampung itu. Tawa anak-anak yang biasa bermain selepas sekolah tinggal kenangan. Obrolan santai ibu-ibu tidak nampak lagi. Semua kegembiraan itu tergantikan oleh jerit ketakutan dan tangis. Kampung itu hancur karena peristiwa yang tidak mungkin terlupakanoleh setiap benak kampung kecil itu. Gempa 6,8 SR membuat kampung itu tak berbentuk lagi. Tapi apapun yang terjadi,sikap anak itu tetap menunjukkan keteguhan jiwa yang kuat walaupun dia belum menginjak masa remaja.

Perlahan kudekati dia. Kusapa dengan hangat. Dia menyambutku dengan senyum penuh ketulusan. Ketika kau menatap wajahnya dalam-dalam, rasa haru segera menyeruak didalam …

Inspirasi Dari Iklan Shampoo

Pernahkah anda merasa “Mengapa keadaanku tidak sama dengan dia?” atau anda berpikir “Mengapa keadaan saya tidak sebaik dia?”. Pernahkah anda merasa seperti itu? Aku pernah merasa seperti itu. Aku merasa keadaanku paling buruk dibanding dengan yang lain. Aku kadang menginginkan keadaanku sama dengan yang lain. Keadaan yang nyaman seperti yang lain.
Beberapa bulan yang lalu aku menemukan sebuah iklan shampo. Iklan ini memang tidak tayang di Indonesia karena ini memang iklan shampo di luar negeri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kupetik dari iklan yang inspiratif.
Dalam iklan itu diceritakan seorang gadis kecil yang tuli dan bisu ingin belajar biola. Akhirnya dia belajar dari seorang pengamen jalanan. Pengamen yang sudah tua. Pengamen itu juga yang menjadi sumber ilmu dan inspirasinya. Tapi usahanya dalam belajar biola tidak semudah yang diharapkan. Kakaknya yang juga seorang pemain piano sering menghina dia. Tidak hanya hinaan,tetapi juga tekanan dalam bentuk fisik. Tetapi sang pengamen t…

Konspirasi Tingkat Tinggi

Badannya cukup kekar untuk ukuran perempuan. Penggaris kayu ukuran satu meter dengan mantab digenggamnya. Matanya tajam menyorot sekelilingnya. Rani, begitu dia dipanggil. Dengan serius dia memberi instruksi. Kawan-kawannya pun mendengarkan dengan seksama. Sesekali menganggukkan kepala tanda paham. Suasana begitu serius. Aku,yang sebenarnya ketua kelas, hanya mengambil peran sebagai peserta saja. Biarlah kawan-kawan yang lebih ahli yang memegang tongkat komando operasi ini.

Aku baru pertama kali melihat kejahatan yang ditata begitu rapi oleh para anak didik ini. Generasi penerus yang diharapkan membangun bangsanya malah mencurangi negara. Konspirasi tingkat tinggi untuk ukuran anak SMA. Kami sedang merumuskan cara menghadapi ujian dari negara.Kami sadar cara kami tidak baik. Ketakutan kehilangan masa depan yang mendorong kami melakukan ini. Kami tidak ingin waktu belajar kami selama tiga tahun terbuang karena kesalahan pada waktu ujian selama 6x120 menit itu.

Petualangan Hidupku Dimulai

Dengan berbekal nilai UNAS hanya 26,87 saya ragu untuk melangkah ke dalam gerbang sebuah sekolah menengah atas. Saya tidak terlau yakin dapat di terima di sekolah itu. Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kota Blitar. SMA yang terfavorit di kota kecil ini. Pendaftaran di buka tiga hari. Pada hari pertama saya memasukkan berkas saya. Dengan cemas saya memantau perkembangan PSB. Saya takut tiba-tiba terdepak dari jajaran siswa yang diterima di SMA itu. Akhirnya pada hari ke tiga, saya masih bisa diterima di SMA 1. Aku berada di urutan 225 dari 320 siswa yang diterima.
Saya memulai petualangan di sebuah kelas yang bernama kelas X.9. Bersama 23 murid lainnya saya menjalani kehidupan kelas yang unik. 24 orang tersebut mempunyai karakter yang berbeda dan sangat sulit untuk disatukan (tentang kelas ini akan saya jelaskan pada tulisan yang lain). Pada kelas sepuluh, saya termasuk murid yang kuper. Ekstra yang saya ikuti pada saat itu hanyalah Ta’mir Musholla Baitul Muttaqiin. Satu tahun masa SMAk…

Potongan Kecil Hidupku

Suara tangisku terdengar pertama kali pada hari Rabu tanggal 22 Mei 1991 di RSUD Dr. Hardjono yang berada di sebuah kota kecil propinsi Jawa Timur. Sebuah kota yang dikenal masyarakat umum sebagai Kota Reog. Ponorogo tempat aku dilahirkan.
Aku ditakdirkan terlahir di keluarga yang berkecukupan. Ayahku seorang dokter umum dan Ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku lebih tua dua tahun dariku. Alhamdulillah, aku dapat tumbuh dengan sehat. Aku dibesarkan di kota yang dijuluki Bumi Bung Karno. Blitar,nama kota itu. Julukan itu dialamatkan pada kota Blitar karena di kota itulah sang Proklamator,Ir soekarno dimakamkan.